Para insinyur di Monash University telah membuat purwarupa dari mesin Boeing, Airbus, Raytheon, dan Safran. Mereka berharap inovasi ini dapat menyelamatkan industri manufaktur Australia.
Simon Marriott, CEO dari Amaero Engineering, menargetkan bahwa teknologi ini bisa dijual secara komersial dalam dua atau tiga tahun ke depan. Pihaknya akan melakukan uji coba terbang dalam 12 bulan ke depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini akan memungkinkan perusahaan penerbangan untuk mempercepat siklus pengembangan mereka karena kami membuat mesin purwarupa tiga atau empat kali lebih cepat dari biasanya," kata Marriott.
Para insinyur sukses membangun printer 3D yang dapat mencetak logam. Mereka juga memimpin dalam hal kekayaan intelektual mengenai cara mencetak 3D untuk industri manufaktur.
Metode cetak 3D memungkinkan sebuah produk terbentuk dengan mencetaknya lapis demi lapis. Industri otomotif dan dirgantara berupaya mengembangkan teknologi macam ini untuk memproduksi purwarupa mesin dan menciptakan komponen lain.
Marriott berharap pihaknya bisa membuat printer 3D yang dapat mencetak mesin lebih besar, dengan biaya sekitar US$ 2.750.000, sekaligus meningkatkan produksi komponen mesin pesawat.
Sebuah komponen pesawat yang sebelumnya diproduksi dalam waktu tiga bulan, bisa dipercepat jika dibuat dengan printer 3D menjadi hanya enam hari.
Menurut Ian Smith, wakil rektor untuk penelitian di Monash University, cara yang ditawarkan Amaero Engineering dapat memberi solusi bikin purwarupa mesin dalam waktu lebih cepat. Keuntungan lain, produsen dapat memesan purwarupa komponen-komponen dari mesin tersebut.
(adt/eno)