Seperti dikatakan oleh CEO Internux--perusahaan yang menjalankan layanan Bolt 4G LTE-- Dicky Moechtar, 40 persen penggunanya mengakses ke produk milik Google, yang kebanyakan memang adalah YouTube.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan keterbatasan tersebutlah banyak pengguna Bolt 4G LTE lebih memanfaatkan mobile WiFi ketimbang ponsel Android bernama Bolt Powerphone hasil kolaborasi dengan vendor asal Tiongkok dan lokal yang juga dibundling beberapa waktu yang lalu.
"Pengguna Bolt di mobile wifi ini juga berimbang, 50 persen memanfaatkannya di laptop, 36 persen di smartphone Android dan sisanya tablet. Tapi habit-nya ya sama saja, gemar menonton video berlama-lama," katanya lagi.
Pengguna Bolt, menurut Dicky, memang tak pernah pelit menghamburkan uang untuk membayar data. Dia menyebut average reveneu per user (ARPU) bisa mencapai Rp 90 ribu per bulan.
Nah, soal menghabiskan data, layanan yang berjalan di frekuensi 2.3 GHz ini menyebutkan sebulan rata-rata bisa per satu pelanggan bisa menghabiskan 8GB hingga 12GB.
Sadar akan pertumbuhan mobile WiFi lebih besar, Internux pun menawarkan beragam pilihan lain untuk pengguna yang ingin memiliki Bolt. Salah satunya dengan menggandeng produsen lokal, MoviMax.
Dengan nama produk MoviMax Orion, mobile wifi ini dikelola bersama oleh PT Sentra Primer Solusindo dan PT Parastar Echorindo, dan diproduksi di Sidoarjo, Jawa Timur.
Lukito Wijaya, Chief Executive Officer PT Panggung Electric Citrabuana mengatakan pihaknya sudah berpengalaman memproduksi beragam produk elektronik dan perangkat telekomunikasi. "Kami memiliki dua line yang khusus untuk pembuatan mobile WiFi. Kapasitas produksinya sekitar 4.000 sampai 6.000 unit per hari," tegas Lukito
Selain itu, MoviMax Orion dibekali dengan baterai besar berkapasitas 2.000 mAh yang bisa bertahan dalam kondisi stanby hingga 150 jam dan digunakan untuk streaming selama 6 jam.
Modem wifi ini ini juga memiliki slot micro SD yang mendukung hingga 32 GB dengan kapabilitas file sharing via wifi.
(tyo/eno)