Jejaring sosial berlambang burung biru itu memberi opsi pada fitur Direct Message agar semua orang bisa saling berkirim pesan, tanpa harus mengikuti atau follow satu sama lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pewarta olahraga dari Amerika Serikat, Sean Highkin, melontarkan pendapatnya soal fitur baru ini. "Ketika tiap perempuan yang saya ikuti berpikir fitur baru ini akan memperburuk masalah pelecehan, Twitter mungkin mau mempertimbangkannya," ungkap Highkin melalui akun dengan nama pengguna @highkin.
[Gambas:Twitter]
[Gambas:Twitter]
Apa kata Twitter?
Seperti dilansir situs Business Insider, Twitter pernah mencoba fitur yang memungkinkan semua penggunanya saling berkirim pesan pribadi tanpa harus saling mengikuti pada 2013 lalu, namun segera disingkirkan.
Pada perubahan yang kini diberlakukan, tetap memberi pilihan kepada para pengguna untuk mengaktifkan atau menonaktifkan fitur tersebut.
Dari perspektif Twitter sendiri, opsi ini dianggap sebagai potensi besar untuk para pemasang iklan dan merek untuk bisa mempromosikan produk mereka kepada para pengguna Twitter.
Twitter juga menganggap fitur ini sebagai langkah awal untuk lebih mematangkan perusahaan dalam berkompetisi di pasar pesan instan melawan Facebook Messenger dan WhatsApp.
CEO Twitter Dick Costolo mengakui bahwa Twitter memang sempat menghadapi masalah pelecehan di ranah online. Bahkan, November 2014 kemarin, Twitter mengumumkan kerja samanya dengan kelompok advokasi nonprofit Women, Action, and the Media (WAM!) untuk memberantas pelecehan online terhadap perempuan.
Berdasarkan survei Pew Research Internet Project, sekitar 25 persen perempuan usia antara 18 dan 24 tahun pernah mengalami pelecehan seksual secara online dan 26 persen mengalami online stalking. (ded)