"Ya, kira-kira kuartal ketiga. Doakan saja supaya lancar tak ada halangan," kata Senior Advisor Smartfren, Rodolfo Pantoja kepada awak media di Qingdao, Tiongkok.
Sementara Roberto Saputra selaku Head of Brand and Corporate Marketing Communication Smartfren menuturkan, sampai sekarang perusahaan masih uji coba jaringan agar saat waktunya komersil, para pengguna sudah betul-betul mendapat yang terbaik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, pihak Smartfren berkaca pada negara-negara maju yang sudah menerapkan jaringan 4G LTE, khususnya peningkatan konsumen atau pengguna setelah jaringan generasi keempat tersebut digelar.
"Target Smartfren kira-kira 10 sampai 20 persen pengguna Smartfren akan menggunakan 4G LTE saat kami luncurkan," ujar Sukaca Purwokardjono sebagai Division Head Smartphone & Data Devices Smartfren.
Smartfren akan menggunakan teknologi 4G LTE jenis FDD (Frequency Division Duplex) di spektrum frekuensi 850 MHz yang mereka miliki, kemudian TDD (Time Division Duplex) di spektrum 2.300 MHz yang akan dihuni Smartfren dalam waktu dekat.
Sukaca menerangkan secara singkat mengenai teknis kedua jenis teknologi 4G tersebut.
Untuk FDD, proses uplink dan downlink menggunakan frekuensi yang berbeda. Sementara TDD, menggunakan frekuensi sama untuk uplink dan downlink dalam waktu yang bersamaan, hanya saja TDD menerapkan pengaturan waktu.
"TDD itu ibarat jalan tol. Cepat dan memiliki jalannya masing-masing walaupun di jalur frekuensi yang sama. Kita masih pakai FDD juga karena itu sudah menjadi jaringan awal kita," terangnya.
Smartfren akan memiliki sumber daya frekuensi seluas 30 MHz di spektrum 2.300 MHz setelah mereka sepenuhnya pindah dari 1.900 MHz. Sementara di 850 MHz Smartfren memiliki pita lebar 10 MHz, dengan 5 MHz di antaranya adalah hasil pengalihan frekuensi yang diberikan Esia setelah kedua perusahaan sepakat dan mendapat restu pemerintah untuk melakukan kerja sama penyelenggaraan jaringan pada November 2014 silam.