Beberapa waktu lalu Dirjen Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Muhammad Budi Setiawan mengatakan, tata ulang ini dimulai dari Maluku dan Maluku Utara.
“Dimulai dari Maluku yang trafik seluler 2G-nya tidak padat,” ujar Budi beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Tak Mudah Tata Ulang 4G LTE dari Maluku
Proses tata ulang ini secara bertahap akan dilakukan di kawasan lain. Pemerintah dan operator seluler yang terlibat telah membagi jumlah kawasan menjadi 42 cluster.
Kawasan Jabodetabek bakal menjadi kawasan terakhir dalam tata ulang karena trafik selulernya sangat padat. Jika operator telah punya pengalaman melakukan tata ulang di kawasan lain, maka bisa menjadi bekal untuk menghadapi tata ulang di Jabodetabek.
Telkomsel, Indosat, dan XL, selama ini memanfaatkan spektrum 900 MHz untuk menggelar 4G LTE. Namun, banyak pihak menilai spektrum ini kurang ideal untuk 4G LTE karena sumber daya empat operator seluler sangat terbatas.
Di spektrum 900 MHz, XL dan Telkomsel masing-masing memiliki lebar pita 7,5 MHz, sementara Indosat memiliki sumber daya seluas 10 MHz.
Sementara itu, sumber daya frekuensi yang ideal untuk 4G LTE disebut 20 MHz. Kebutuhan itu bisa dipenuhi jika operator seluler memanfaatkan spektrum 1.800 MHz. Hingga kini tercatat XL dan Telkomsel mempunyai lebar 22,5 MHz, Indosat 20 MHz, sedangkan Tri yang paling kecil, 10 MHz.
Kemenkominfo juga berencana menggelar 4G LTE di spektrum 2.100 MHz dan 2.300 MHz agar makin banyak spektrum yang bisa dipakai untuk Internet kecepatan tinggi.