Sekelompok ilmuwan komputer dari University of Warwick berkolaborasi dengan mitra di Department of Journalism di City University London dan Information Technologies Institute untuk memberdayakan Twitter sebagai alat prediksi pemilu Inggris. Mereka bahkan mengklaim perhitungan Twitter bisa lebih akurat dari cara manual.
Tim ilmuwan tersebut menggunakan algoritma yang 'memungut' tweets atau kicauan berbau politik, menjumlahkannya, lalu memasukan informasi ini ke dalam laporan pemungutan suara konvensional. Dari situ mereka bakal menghasilkan prediksi harian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tsakalidis sendiri telah mengembangkan inti algoritma yang memprediksi suara pemilu. Ia mengembangkan model algoritma tersebut dan menggunakannya untuk prediksi pemilu di Yunani pada Januari silam. Hasilnya pun diklaim 31 persen lebih akurat.
Pemilu dilangsungkan di Inggris Raya hari ini, Kamis (7/5). Partai Konservatif Inggris kembali memenangkan pemilihan umum berdasarkan hasil hitung cepat dengan perolehan kursi terbanyak di parlemen. Sementara itu, Partai Buruh yang sebelumnya diprediksi akan terpaut tipis dengan Konservatif justru anjlok.
Partai Konservatif pimpinan David Cameron mendapatkan 316 kursi, sementara Partai Buruh yang digawangi Ed Milliband dapat 239 kursi.
Partai Nasional Skotlandia, SNP, mendapatkan 58 kursi dan Liberal Demokrat 10 kursi, UKIP dan Partai Hijau masing-masing mendapat dua kursi, dari 650 kursi parlemen Westminster yang diperebutkan. Sejauh ini hasil hitung cepat terbukti akurat.
Dengan hasil ini, Cameron akan kembali menjabat perdana menteri Inggris untuk lima tahun ke depan.
(eno/eno)