"Saat ini masih prototipe, tinggal eksekusi tahun ini juga," kata Made Sudharma, Country Head Application Services Fujitsu Indonesia, di Bandung, Rabu (27/5) petang.
Pihak Fujitsu enggan membuka berapa nilai anggaran untuk proyek tersebut. Namun, kata Made, 100 persen ditanggung oleh pemerintah Jepang sebagai sumbangan. Bagaimana sistem itu bekerja?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan sistem yang menggabungkan teknologi konferensi video untuk pertukaran informasi kesehatan dan catatan medis elektronik itu, antar-institusi kesehatan bisa saling berkomunikasi dengan perangkat teknologi sehingga apabila ada kekurangan tenaga medis di satu institusi, bisa ditutupi dari institusi lain. Dengan sistem itu pula, rekam medis pasien dapat lebih mudah diakses oleh dokter meski pasien itu adalah rujukan dari rumah sakit lain. Sistem komunikasi semacam itu, kata Made, akan mempermudah dan mempercepat penanganan kondisi si pasien.
Achmad S. Sofwan, Managing Director Fujitsu Indonesia, mengatakan sistem kesehatan seperti itu kalau dipadukan dengan sistem pelayanan masyarakat lain akan mewujudkan Kota Pintar yang sebenarnya.
Di Jepang, kata Achmad, sistem telemedicine terhubung dengan instansi yang mengelola lalu lintas jalan raya. Sehingga ketika ada pasien darurat yang diangkut dengan ambulans, perjalanannya ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis yang cepat, takkan terganggu kemacetan lalu lintas.
"Sistem pelayanan kesehatan bisa memungkinkan ambulans mencari jalur tercepat menuju rumah sakit," katanya.
Begitu juga sistem rekaman medis yang sudah saling terhubung sehingga saat pasien sampai di rumah sakit rujukan, dokter di sana bisa langsung mengakses rekaman medis si pasien, meski ia berasal dari rumah sakit lain. (ded/ded)