"Peran masyarakat Indonesia itu besar. Semua berasal dari kebiasaan kita yang hobi bergosip, sharing, dan narsis di media sosial. Sehingga informasi cepat tersebar. Dari situ kita bisa lihat marketing paling bagus di sini adalah dari mulut ke mulut," kata pakar IT Richardus Eko Indrajit, saat dijumpai awak media di Hotel Borobodur, Jakarta, Kamis (6/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, pemerintah merasa komando formal yang jelas sesuai tatanan struktur hukum tetap perlu dibentuk agar bisa menyaring konten hoax alias palsu.
Richardus menyarankan pemilihan anggota BSN harus dilakukan secara hati-hati.
"Di media sosial itu informasi bergerak cepat. Kita harus mengedukasi bahwa tak semua informasi itu aman dan berhak disebarluaskan. Contoh, aktor muda Raditya Dika itu punya follower Twitter banyak sekali. Misalnya kita jadikan dia duta keamanan, dia akan berbagi informasi yang terpercaya dan masyarakat pasti membaca kontennya," kata Richardus.
Ia menekankan, metode formal dalam bentuk BSN memang harus berjalan secara efektif. Namun secara bersamaan, metode informal juga diharapkan akan menjadi kekuatan tersendiri karena dari situlah peran masyarakat berada. (ded/ded)