Pada masa 212 juta tahun lalu, atau pertengahan masa Triassic, Sauropod yang berleher panjang dan pemakan tumbuhan itu hidup di Bumi belahan utara (Eropa masa kini) dan Bumi belahan selatan (sekarang Argentina).
Tapi tak ditemukan fosil hewan itu di kawasan tropis, di tempat yang juga sedikit dihuni dinosaurus pemakan daging. Sampai kemudian 30 juta tahun kemudian, Sauropod muncul di kawasan dekat ekuator.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian Whiteside dan timnya menemukan penyebabnya adalah cuaca. Selama sembilan tahun mereka menganalisa bebatuan di sebuah lokasi bernama Ghost Ranch di New Mexico. Mereka fokus di sebuah formasi batuan multiwarna di Formasi Chinle.
Kesimpulannya, pada era Triassic, daerah tropis bukanlah tempat yang nyaman untuk jadi tempat hidup dinosaurus Sauropod. Kandungan karbondioksida atmosferik di sana terlalu tinggi dan tingkat kelembabannya amat ekstrim. Sering pula terjadi kebakaran liar yang menghanguskan tetumbuhan.
Dari hasil penelitian mereka yang kemudian dipublikasikan di jurnal PNAS, didapati populasi dinosaurus hanya 15 persen dari total satwa bertulang belakang yang hidup di area tropis. Kebanyakan adalah dinosaurus kecil pemakan daging dan reptil yang jadi nenek moyang buaya.
“Daerah itu bukan tempat yang nyaman untuk hidup,” kata Nathan Smith, kurator di Institut Dinosaurus Museum Sejarah Alam di Los Angeles.
Tapi para ahli itu belum mendapat jawaban dari pertanyaan baru, mengapa akhirnya daerah tropis bisa dihuni Sauropod berjuta tahun kemudian?