Seperti dilansir CNN Money, Rabu (17/6), diduga kebocoran itu ada di software prediksi kata yang dibuat oleh perusahaan Inggris SwiftKey, yang diinstal di setiap perangkat sejak dari pabrik. Tahun lalu NowSecure, sebuah perusahaan keamanan siber, mendapati bahwa software itu bisa 'ditipu' untuk menerima file bervirus saat melakukan update.
Melihat cara keyboard diinstal, virus itu bisa mengakses bagian inti dari sistem komputer di perangkat tersebut. Dengan level akses seperti itu, peretas bisa melakukan apapun pada ponsel yang jadi korban.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peneliti di NowSecure mengatakan telah menyampaikan perihal kebocoran itu kepada Samsung sejak November tahun lalu. Tapi sampai sekarang tak ada perbaikan. Itulah kenapa NowSecure merilis temuannya di website mereka sejak Selasa (16/6) kemarin.
NowSecure telah mengetes beberapa model Galaxy dari operator yang berbeda. Semuanya mengandung celah berbahaya. Dengan asumsi bahwa setiap Galaxy sama, NowSecure memperkirakan ada 600 juta perangkat Galaxy yang terdampak.
Bagaimana respons Samsung dan SwiftKey? Keduanya belum mengklaim bertanggung jawab. Tapi dalam pernyataan publiknya, SwiftKey mengakui telah menemukan celah itu. Menurut mereka, cara teknologinya diintegrasikan ke dalam perangkat Samsung telah melahirkan celah itu.
Meski begitu, menurut SwiftKey, tak mudah juga meretas perangkat itu karena perlu timing khusus. Peretas hanya bisa menembus perangkat ketika software keyboard melakukan pembaruan.
Sedangkan Samsung mengatakan ancaman keamanan seperti itu akan ditanggapi dengan serius. Mereka akan merilis patching melalui layanan Samsung KNOX. “Pembaruan akan dirilis dalam beberapa hari,” kata perusahaan dari Korea Selatan itu.
(ded/ded)