Awan di bulan berbeda dengan Bumi. Mereka terbuat dari pertikel kecil debu antariksa dan bulan sendiri. Bahkan, awan bulan tak bisa dilihat dengan kasat mata kecuali terkena sinar Matahari.
Debu dari awan bulan ini diyakini bertumbuh terus setiap ada hujan meteor di Bumi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dampaknya terhadap bulan yang jaraknya tak begitu jauh dengan Bumi yakni hujan meteor tersebut menabrak permukaan bulan dan sukses membuat debu awan di sana semakin padat.
Menurut penjelasan Horanyi, energi yang terkumpul dari ledakan tersebut bisa menerbangkan serbuk bulan tersebut hingga 201 kilometer di atas permukaan bulan, namun ledakan itu tidak bergerak cepat untuk menembus gravitasi bulan. Nah, akhirnya partikel debu ini jatuh kembali dan menyelimuti permukaan bulam lagi.
"Fenomena ini pada akhirnya mampu menghapus jejak kaki astronaut pertama yang menginjakan kaki di bulan," lanjut Horanyi.
Astronaut Amerika Serikat, Neil Armstrong adalah orang pertama yang berhasil menginjakan kaki di bulan. Pada Juli 1969 silam, ia bersama dua rekan kerjanya, Buzz Aldrin dan Michael Collins berhasil menyelesaikan misi Apollo untuk menjelajah permukaan bulan.
Armstrong meninggal dunia pada 25 Agustus 2012 lalu di usia 82 tahun setelah berjuang melawan penyakit komplikasi jantung.
(eno)