Perusahaan Iklan Digital Adskom Raih Investasi dari 3 Pemodal

Aditya Panji, CNN Indonesia | Sabtu, 11/07/2015 12:15 WIB
Perusahaan Iklan Digital Adskom Raih Investasi dari 3 Pemodal Ilustrasi investasi. (Thinkstock/Denphumi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan rintisan iklan digital Adskom asal Indonesia mengumumkan pekan ini mereka meraih investasi seri A yang tak disebut jumlahnya dari tiga pemodal.

Putaran investasi ini dipimpin oleh Geniee yang juga menyediakan periklan digital, dan dua perusahaan modal ventura Convergence Ventures dari Indonesia, dan East Ventures dari Singapura yang sebelumnya sempat menyuntikkan dana di Adskom.

Dana segar bakal dimanfaatkan Adskom untuk memperluas layanan periklanan yang terprogram (programmatic advertising) untuk perangkat mobile dan konten video, lalu ekspansi ke pasar Malaysia dan Thailand. Mereka berharap bisa meningkatkan pendapatan 300 sampai 500 persen.


Sebelumnya, Adskom telah meraih sejumlah investasi tingkat awal dari Rebright Partners, Digital Garage, dan Beenos Plaza asal Jepang, serta dari Skystar Capital yang berbasis di Indonesia.

Baca juga: Konten Video Bisa Kuasai Trafik Internet

Chief Technology Officer Adskom, Daniel Armanto mengatakan, pihaknya berupaya meningkatkan kemampuan di ranah programmatic advertising melalui kerja sama dengan banyak mitra data.

"Kami memiliki kemampuan untuk mengumpulkan dan memproses data perilaku konsumen lokal. Hal ini menciptakan keunggulan kompetitif wilayah yang kuat. Kami merupakan satu-satunya pemain lokal yang memiliki teknologi dan tim yang dapat mendukung operasi Big Data,” kata Daniel dalam siaran pers yang diterima CNN Indonesia.

Adskom mengelola 150 juta data pengguna unik untuk pasar Indonesia. Mereka sudah terintegrasi dengan lebih dari 200 mitra suplai, data, dan permintaan. Adskom sendiri beroperasi di tiga negara, yaitu Indonesia, Singapura, dan Amerika Serikat.

Pertumbuhan cepat Adskom membuat sejumlah investor tertarik untuk menaruh uang di perusahaan itu. Executive Director Geniee, Akifusa Kanda berkata, langkah ini merupakan investasi pertama mereka di Asia Tenggara.

“Dengan investasi ini, kami akan terus bekerjasama dengan ADSKOM melalui peningkatan transaksi bisnis secara langsung serta saling berbagi pengetahuan,” tutur Akifusa.

Asia Tenggara dinilai sebagai pasar besar untuk iklan digital. Para analis memperkirakan besarnya anggaran periklanan digital di Asia Tenggara adalah US$ 915 juta (Rp 12,2 triliun) di tahun 2014, tidak termasuk Filipina.

Di Indonesia saja, jumlah anggaran periklanan digital tahun 2015 diperkirakan bisa melebihi angka US$800 juta (Rp 10,6 triliun), naik 80 persen dibandingkan anggaran tahun 2014 sebesar US$ 460 juta (Rp 6,1 triliun), berdasarkan riset dari eMarketer. Dari angka itu, US$ 130 juta (Rp 1,7 triliun) akan dihabiskan untuk iklan di perangkat mobile, naik 200 persen dari anggaran tahun lalu sebesar US$ 40 juta (Rp 533 miliar).

Pasar di Indonesia akan terus tumbuh stabil hingga tahun 2019, di mana pada saat itu total pasar iklan di Indonesia (termasuk iklan di media tradisional) akan melompat hingga US$ 19,58 miliar (Rp 260,7 triliun). Di saat itu, anggaran belanja iklan digital dan mobile akan berkisar di angka US$ 7,6 miliar (Rp 101,2 triliun).