Proses ‘kelahiran’ itu adalah saat si Ibu Robot meletakkan calon bayinya di platform testing dan mengevaluasi apakah si ‘jabang bayi’ layak diteruskan menjadi robot berikutnya, atau dieliminasi. Persis seperti proses seleksi alam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Si Ibu Robot kemudian mengevaluasi dan mengamati seberapa cepat bayi robot baru itu bisa bergerak. Melalui kriteria itu, bayi robot yang lamban dibongkar lagi dan yang cepat dipertahankan. Ibu Robot memakai informasi ini untuk menciptakan generasi baru.
Setelah lima percobaan, Ibu Robot telah ‘melahirkan’ sampai 10 generasi. Robot generasi yang terbaru berevolusi jadi lebih baik, mereka bisa berlari dua kali lebih cepat.
Sebenarnya, ini bukan penelitian pertama mengenai evolusi robot. Tapi ini adalah penelitian pertama yang tidak dilakukan secara virtual. Dulu biasanya dilakukan secara virtual dan memakai piranti lunak kecerdasan buatan untuk mengevaluasi ribuan bahkan jutaan kemungkinan dalam simulasi komputer.
“Melakukan studi ini dalam kehidupan nyata dengan memakai robot yang nyata adalah satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa teori itu betul-betul bekerja,” kata Iida. (ded/ded)