Selama ini, kata Rudiantara, berbagi infrastruktur telekomunikasi yang dilakukan di Indonesia masih bersifat pasif, hanya mengarah pada berbagi peralatan penunjang seperti menara base transceiver station (BTS).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usul ini diklaim datang atas permintaan sejumlah operator seluler agar mereka dapat melakukan efisiensi dari sisi investasi dan operasional.
"Kalau jalan sendiri-sendiri akan memakan biaya besar. Apalagi sekarang dolar (Amerika Serikat) sedang tinggi. Kita pemerintah dorong untuk melakukan efisiensi," lanjut Rudiantara.
Selain itu, ia tak menutup kemungkinan untuk membuka aturan berbagi frekuensi, jika memang jadi kebutuhan masa depan para pemangku kepentingan. Jika dirasa butuh, Rudiantara tak segan untuk mengubah regulasi.
Langkah berbagi infrastruktur diharapkan juga mampu menekan defisit neraca perdagangan Indonesia yang salah satunya dipicu oleh tingginya akan impor produk telekomunikasi, mulai dari radio BTS sampai ponsel untuk konsumen, yang merupakan komoditas kedua terbesar setelah minyak dan gas.
(adt/tyo)