Ada tiga 'perempuan cantik' bernama Rinko, Manaka, dan Nene yang memberikan koneksi emosional secara instan. Mereka bisa memberi ciuman, 'memegang' tangan si gamer, bertukar pesan teks yang menggoda, hingga marah jika pacarnya meninggalkan percakapan.
"Tak ada perselisihan di dalam hubungan ini. Pacar-pacar virtual ini bersikap sangat manis dari cara mereka merespon para lelaki, lengkap dengan mata besar dan wajah berbentuk hati. Siapa yang tak mau?" ujar fotografer asal Swedia, Loulou d'Aki yang mendokumentasikan sejumlah pemain Love Plus di Jepang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika Anda mencari di Google 'Japan' dan 'Love', Anda akan menemukan banyak artikel tentang orang-orang kesepian yang tak pernah menikah. Saya tidak ingin mengucilkan itu, tapi saya mau menunjukan aspek manusia -- cerita individu di balik siapa saja yang menggunakan aplikasi ini," kata d'Aki lagi.
Namun banyak di antaranya yang terjebak suasana yang kemudian jatuh cinta dengan karakter perempuan di dalamnya. Mereka juga mengaku tak sabar menunggu pembaruan game tersebut.
Salah satu pengguna Love Plus yang menjalin hubungan dengan karakter bernama Manaka mengaku telah menghabiskan waktu berdua di kota resor Atami. Adapun pengguna usia 48 tahun yang mengaku sering menghabiskan waktu sendirian di kamar tidur hanya ditemani dengan konsol Nintendo dan kekasih virtualnya, Manaka.
Love Plus |
Kemudian lelaki bernama Masano yang telah mengencani karakter Rinko sejak 2009, menyatakan bahwa 'berpacaran' secara virtual sedikit meringankan rasa takut akan kegagalan menjalin hubungan di dunia nyata.
"Mereka biasanya menginginkan seseorang yang menerima mereka apa adanya, seperti mengerti hobi mereka apa tanpa diprotes. Sementara Masano bilang, ia butuh kehadiran 'seseorang' yang selalu ada untuknya, dari mulai mengucapkan selamat pagi hingga selamat malam," d'Aki menjelaskan.
Melansir Time, 'fasilitas' kekasih virtual ini ternyata tak terbatas hanya untuk para lelaki Jepang. Pengembang game dikabarkan telah merilis sejumlah simulasi percintaan untuk kaum wanita.
Walau bagaimanapun, game seperti ini memang sudah menjadi bagian dari tren khas Jepang. Game ini juga dianggap sebagai bagian dari proses perkembangan kultur game video yang telah mendominasi Negeri Sakura sejak era 1980-an.
(eno)
Love Plus