Kebakaran hutan yang menyebabkan kabut asap di berbagai tempat di Indonesia diyakini mendekati situasi tahun 1997. Pada saat itu, terjadi fenomena El Nino yang sangat kuat, sehingga menyebabkan kebakaran hutan meluas dengan tingkat polusi udara dan pelepasan gas rumah kaca yang sangat tinggi. Pada saat itu, ada data yang menyebutkan kebakaran menghanguskan 1,5 juta hektare lahan di Sumatera dan 3 juta hektare di Kalimantan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fenomena El Nino tahun ini diyakini sama kuatnya dengan 1997. “Kita sedang menuju situasi yang sama buruknya,” kata Robert Field, ilmuwan di Columbia University yang bermarkas di Goddard Institute for Space Studies, NASA, dalam keterangan resmi di situs resmi NASA.
Data kedalaman optik Aerosol, yang dikumpulkan oleh Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) di satelit Terra milik NASA, diketahui bahwa level partikelnya sudah sama dengan tahun 2006.
Ilmuwan dari Vrije Universiteit Amsterdam Guido van der Werf telah memonitor kebakaran hutan di Indonesia dengan MODIS. Dia mengatakan, “Ada lebih banyak api dan apinya lebih besar juga tahun ini,” katanya. “Kita sudah setengah jalan menuju musim api.” (ded/ded)