Seorang profesor dari University of Western Australia, Charitha Pattiaratchi mengatakan kepada media West Australian, drone itu memang sengaja dirakit untuk mengukur suhu dan kadar garam laut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Drone senilai US$ 250 ribu atau setara Rp 3,6 miliar itu harus mengalami kerusakan yang memakan biaya sebanyak US$ 20 ribu atau Rp 293 juta.
Kejadian ini dinilai menjadi catatan penting bagi dunia akademik untuk mempertimbangkan keberadaan teknologi canggih yang sengaja ditempatkan di alam bebas di mana tentu akan memengaruhi kehidupan makhluk hidup lainnya.
Sebelumnya di bulan Agustus kemarin, Tim ilmuwan dari University of Minnesota mempublikasikan penelitian di jurnal Current Biology mengenai pengaruh drone yang berpotensi mengganggu satwa liar, khususnya beruang.
Drone terbukti mempengaruhi respon psikologis beruang yang terbang di dekatnya. Menurut penelitian tersebut, beruang memang tidak mengalami perubahan perilaku, namun mereka justru menghadapi suasana hati yang naik-turun.
"Mungkin memang menyenangkan melihat para hewan bereaksi terhadap kehadiran drone, namun tentu itu tidak membawa manfaat sama sekali," tulis tim ilmuwan di dalam jurnalnya. (tyo)