Dalam gugatan baru, Uber meminta pihak berwenang mempelajari lebih lanjut soal alamat Internet Protocol (IP Address) peretas dan mengindetifikasi peretas tersebut.
Dua sumber yang akrab dengan masalah ini mengatakan kepada Reuters, bahwa pelaku peretasan tersebut tertuju kepada Chief Technology Officer (CTO) dari Lyft, perusahaan mobil panggilan yang merupakan pesaing utama Uber di Amerika Serikat. Posisi CTO di Lyft kini diisi oleh Chris Lambert.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
IP Address dari si peretas telah dimasukkan Uber dalam dokumen ke pengadilan. Namun, hakim yang menangani kasus ini menolak permintaan Uber.
Juru bicara dan kuasa hukum Uber menolak mengomemtari berita ini.
Sementara juru bicara Lyft, Brandon McCormick mengatakan perusahaan telah menyelidiki masalah itu dan menyimpulkan “Bahwa setiap karyawan Lyft, termasuk Chris, mengunduh informasi pengemudi atau database Uber, atau berhubungan dengan pelanggaran data Uber pada Mei 2014.”
Lyft saat ini bernilai US$ 2,5 miliar, jauh lebih kecil dari Uber yang bernilai US$ 51 miliar setelah mendapat suntikan dana dari sejumlah investor. Kedua perusahaan bersaing dalam mitra pengemudi dan penumpang. (adt)