10 Juta Orang Miskin Punya Ponsel, Kirim Bansos via T-cash

Susetyo Dwi Prihadi, CNN Indonesia | Jumat, 16/10/2015 13:24 WIB
10 Juta Orang Miskin Punya Ponsel, Kirim Bansos via T-cash Menkominfo RI Rudiantara (ketiga dari kanan) bersama Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah (ketiga dari kiri) didampingi oleh Direktur Kepala Program Elektronifikasi dan Keuangan Inklusif Bank Indonesia Pungky P. Purnomo (kedua dari kiri), Kepala Kelompok Kerja Kebijakan TNP2K Elan Satriawan (kedua dari kanan) (Dok.Telkomsel)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tahun 2007, Telkomsel mengeluarkan layanan uang elektronik yang diberi nama T-Cash. Sudah 8 tahun hadir, pengguna T-Cash masih belum terlalu banyak penggunanya. Walaupun diklaim jumlah yang aktifnya cukup banyak.

Menurut perusahaan ada 20 juta anggota T-Cash yang terdaftar, namun pengguna aktifnya tidaklah sepadan. Uang elektronik ini pun berbenah, jumlah merchant ditambah dan teknologinya dipercanggih.

"T-cash sekarang sudah mempunyai 400 ribu mitra distribusi yang berfungsi mensosialisasikan T-cash dan layanan ini dapat digunakan 1.000 merchant. Beberapa diantaranya, Indomaret, Wendys, dan Coffe Bean," ujar Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah.


Dari sisi teknologi pun, T-cash turut dibenahi agar menarik 149 juta pelanggan Telkomsel. Adanya stiker Near Field Communications (NFC), pengguna yang sudah mempunyai saldo cukup dapat melakukan transaksi hanya dengan menempelkannya saja di mesin.
(Dok.Telkomsel)

Kata Ririek, stiker NFC ini tak hanya berjalan di ponsel pintar saja, namun juga di ponsel biasa, seperti feature phone.

Fungsinya Beragam

Ada dua cara untuk bisa menggunakan uang elektronik ala Telkomsel ini. Pertama langsung dari ponsel. Pengguna hanya perlu mengetikkan *800# untuk melakukan sejumlah transaksi.

Berapa diantaranya, membayar tagihan listrik-air, kartu kredit dan ini menarik untuk pengguna T-cash premium bisa melakukan transfer uang ke rekening bank atau rekening ponsel.

Cara kedua, dengan menempelkan stiker NFC di mesin untuk melakukan pembayaran. Untuk cara yang ini tak perlu ribet dan lebih simpel saja.

Mengirim Bantuan Sosial

Ketika mengirim uang ke rekening ponsel dan mencairkannya ke mitra Telkomsel bisa dilakukan, ternyata ini ada celah postif yang dilihat oleh Telkomsel dan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K),

Karena menurut Sekertaris Eksekutif TNP2K Bambang Widianto, ada 15,5 juta rumah tangga yang mendapat perlindungan jaminan sosial, dan 10,8 juta diantaranya mempunyai ponsel.

"Jangan salah sangka orang miskin itu punya ponsel. Tapi bukan ponsel mahal, dan itu hanya digunakan untuk telepon dan SMS saja," kata Bambang.

Oh orang miskin punya ponsel? Kenapa tidak dicoba untuk mengirimkan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) menggunakan T-cash. Karena menurut Bambang, dengan T-cash pengiriman dana bantuan sosial akan bisa mencapai pelosok-pelosok desa.

Apalagi dia mengutip pernyataan dari Telkomsel, sampai kuartal ketiga tahun 2015, coverage Telkomsel sudah mencapai 95 persen kawasan Indonesia.

"Ini sinergi yang tepat, karena Telkomsel hadir hingga di pelosok. Saat ini masih tahap ujicoba di beberapa kota saja. Namun bila ini berhasil, dapat memangkas biaya pengiriman. Karena BLT ini biasanya disalurkan melalui PT Pos Indonesia," katanya.

Dia tak bisa menampik bila orang miskin punya ponsel lantas tak bisa diberikan dana bantuan. Karena Bambang bilang, bantuan yang diberikan tak melulu dalam bentuk uang. Bisa juga subsidi listrik atau subsidi pupuk bagi patani.

Bank dan Operator Harus Duduk Bareng

T-cash yang berperan sebagai penghantar uang, tentu ada satu kerikil yang mengganjal. Karena pada kenyataanya, menurut peraturan Bank Indonesia, uang yang terkumpul tak boleh disimpan operator.

Soal ini Ririek bicara,"Uang kita simpan langsung ke dua bank, Bank BNI dan Bank Mandiri. Kita tidak simpan uang tersebut."

Masalah antara perbankan dengan operator seluler ini memang cerita klasik. Bahkan Menkominfo Rudiantara mengkritisi soal sinergi yang belum terjalin maksimal diantara kedua sektor ini.
Warga menerima Bantuan Langsung Tunai Sementara Masyarakat (BLSM) (Detikcom/Hasan Al Habsy)

Rudiantara bilang, nomor seluler di Indonesia yang potensial ada 160 juta sampai 170 juta. Sedangkan perbankan baru 60 juta sampai 70 juta. "Jadi antara telekomunikasi dan perbankan duduk bareng saja, tidak usah jalan sendiri-sendiri," katanya.

Pemerintah memang sedang mengalakkan program gerakan non-tunai di seluruh pelosok Indonesia. Namun, bila melihat angka-angka tersebut, mau tidak mau telekomunikasi harus dgandeng.

"Harusnya dengan kemajuan teknologi saat ini, perbankan dan telekomunikasi bisa berkolaborasi lebih erat lagi. Saya harap ini bisa mulai jalan lewat kolaborasi T-cash ini," kata Direktur Kepala Program Elektrobifikasi dan Keuangan Inklusif Bank Indonesia Pungky.P Purnomo.


(tyo/eno)