Proyek balon udara Google yang disebut Project Loon, mendapat dukungan pemerintah dengan memanfaatkan spektrum 900 MHz milik tiga operator seluler, yaitu Telkomsel, XL Axiata, dan Indosat.
Berkaca dari hal itu, Direktur Eksekutif ICT Watch, Donny Budi Utoyo meminta pemerintah juga memberi izin kepada OpenBTS untuk memakai spektrum 900 MHz demi kepentingan penelitian dan pengembangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan alat ini masyarakat di sekitar lokasi OpenBTS dapat menerima sinyal seluler untuk melakukan panggilan telepon dan SMS.
Menurut praktisi sekaligus dosen telekomunikasi, Onno W. Purbo yang selama ini aktif menyosialisasikan OpenBTS, teknologi ini merupakan alternatif untuk membangun Base Transceiver Station (BTS) sendiri dengan harga terjangkau untuk telekomunikasi GSM berbasis software open source.
OpenBTS memungkinkan implementasi software open source untuk mengirim jaringan GSM ke ponsel dan membuka peluang bagi masyarakat di daerah pedesaan agar tidak tergantung pada operator seluler yang jaringannya tak merambah wilayah terpencil.
Donny mengatakan teknologi OpenBTS sejauh ini belum mendapat dukungan yang memadai dari operator telekomunikasi dan pemerintah, dalam skema kerja sama bentuk apapun.
“Kami juga meminta kepada operator telekomunikasi Indonesia, hendaknya sepenuh hati mendukung penelitan dan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi, semisal OpenBTS, yang sejatinya telah dan dapat dilakukan secara mandiri oleh putra-putri Indonesia,” lanjut Donny.
Mengenai Project Loon, rencananya perangkat balon udara Google ini bakal diuji pada 2016 dan didukung oleh tiga operator. Balon akan mengudara di ketinggian 20 km dari permukaan laut untuk menyebar koneksi Internet 4G LTE ke kawasan timur Indonesia yang infrastruktur telekomunikasi dinilai belum memadai.
Jika berjalan lancar, teknologi “BTS terbang” ini akan dikomersialkan pada dua atau tiga tahun mendatang. (adt/eno)