"Kaum pria muda homoseksual mengaku bahwa mereka menggunakan aplikasi kencan online untuk bisa bertemu dan melakukan hubungan seksual. Kami menyadari bahwa perilaku berbahaya ini dapat meningkatkan penyebaran HIV/AIDS," ungkap Wing-Sie Cheng, penasihat HIV/AIDS untuk Unicef di daerah Asia Timur dan Pasifik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena itu kami pun jadi yakin bahwa terdapat hubungan, dan maka itu kami butuh bekerja sama lebih baik dengan penyedia aplikasi mobile untuk menyebarkan informasi tentang HIV dan melindungi kesehatan orang-orang dewasa," tulis Cheng.
Ia mengaku hampir setia saat berkomunikasi dengan para partnernya yang begitu banyak, sebelum selanjunya melakukan 'kopi darat'. Setelah 2 tahun menggunakan aplikasi kencan online, sayangnya ia akhirnya tertular virus HIV dari pacarnya yang diketahui diam-diam berselingkuh dengan orang lain yang dihubungi menggunakan aplikasi kencan online ini.
GWI mencatat bahwa kebanyakan orang, yaitu sebesar 25 persen masih mengakses aplikasi kencan online melalui komputer pribadi atau laptop, kemudian disusul dengan akses melalui ponsel sebesar 15 persen dan tablet sebesar 9 persen.
"Aplikasi ini menciptakan sebuah jaringan di antara para pria, di mana infeksi virus dapat meningkat dengan cepat di antara para penggunanya. Meningkatnya penggunaan aplikasi ini juga turut meningkatkan kemungkinan resiko terinfeksi virus karena aplikasi memudahkan mereka untuk bisa berkencan dan melakukan hubungan seksual," ungkap Cheng.
Aplikasi kencan online, seperti Grindr dan Hornet menjadi platform di mana remaja bisa dengan mudahnya berkkomunikasi dengan orang-orang asing, khsusnya untuk memenuhi hasrat seksualnya.
Pengguna aplikasi kencan online bisa saja saling berbagi foto-foto pribadi lewat ponselnya dan kemudian bisa dengan cepat memutuskan untuk bertemu dan melakukan hubungan seksual.
AIDS memang telah menjadi salah satu penybab kematian tertinggi di dunia, khususnya di daerah Afrika. Selama Di Filipina sendiri, jumlah remaja yang terinfeksi virus HIV telah meningkat dua kali lipat selama 4 tahun terakhir. Sementara itu, satu banding tiga orang pria muda homo seksual di Bangkok memiliki kemungkinan terinveksi virus mematikan ini.
Saat ini PBB berusaha untuk melakukan pendekatan dengan perusahaan penyedia jasa aplikasi kencan online untuk bisa bekerja sama dalam menginvestigasi dampak dari kencan online.
Advokasi juga akan terus dilakukan sehingga PBB bisa memberikan pendidikan seks secara online sebagai salah satu langkah untuk bisa mengakhiri kasus infeksi HIV pada tahun 2030 mendatang.
"Infeksi AIDS tidak akan pernah berhenti di dunia bila masalah ini tidak bisa dikendalikan," sebut Cheng.
(tyo)