Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan teknologi Google Fiber belum tentu akan ada di Indonesia, dan belum memelajari lebih lanjut soal model bisnisnya.
Ia berkata tertarik untuk memelajari teknologi Google Fiber dan meminta ke Sergey Brin, salah seorang pendiri Google, untuk memungkinkan orang Indonesia memelajari Google Fiber. Hal ini diungkapkan ketika keduanya menggelar pertemuan pribadi di kantor Kemenkominfo, 28 Desember 2015 lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fixed Broadband di 2016
Setelah mempercepat penyelenggaraan 4G LTE memanfaatkan spektrum 900 MHz dan 1.800 MHz di Indonesia, di tahun 2016 ini Kemenkominfo juga akan mendorong pembangunan infrastruktur fixed broadband yang berbasis kabel serat optik.
Rudiantara mengaku akan memelajari sejumlah inisiatif serta teknologi untuk mendukung hal itu.
"Tahun depan fokusnya fixed broadband yang bisa dibawa ke rumah untuk telepon, data, Internet, TV kabel. Tantangannya, fixed broadband akan lebih lama dan mahal," ujar Rudiantara, akhir 2015 lalu.
Perusahaan yang aktif menggelar fixed broadband selama ini antara lain Telkom, First Media, Biznet Networks.
Rudiantara menuturkan, secara spesifik pemerintah akan berdiskusi lebih lanjut dengan perusahaan operator broadband, terutama Telkom, serta menjadi jembatan soal perizinan dan regulasi. Sebab menurutnya, jika ingin maju harus ada regulasi yang terintegrasi.
Fixed broadband masuk dalam program Rencana Pitalebar Indonesia (RPI) yang targetnya rampung pada 2019 mendatang.
Gedung-gedung yang tergolong bangunan tingkat tinggi di kawasan bisnis, diharap Rudiantara, sudah terhubung fixed broadband pada 2019 nanti dengan kecepatan setidaknya 10 GB hingga 100 GB.
Sementara untuk kawasan rural akan didahulukan yang punya pasar potensial --seperti pengembang perumahan-- yang membangun 1.000 hingga 5.000 rumah.
(adt/eno)