"Diperkirakan angka US$2,6 miliar ini akan terus meningkat pada tahun-tahun selanjutnya," kata Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Sri Agustina pada acara 5 Minutes for E-commerce 2016 di Jakarta.
Berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, pelaku ritel di Indonesia maupun di berbagai negara saat ini sedang berupaya merangkul pendekatan multichannel atau offline-to-online (O2O). Hal ini dilakukan untuk memenuhi ekspektasi pelanggan sekaligus memenangkan perebutan pangsa pasar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sri Agustina juga mengungkapkan jenis barang yang sering dibeli melalui e-commerce. "Menurut AC Nielsen, diantaranya adalah 69 persen pakaian, 10 persen peralatan rumah tangga, 7 persen buku, 7 persen tiket travel, dan 6 persen barang komputer," katanya.
"Sasarannya memang paling banyak kaum perempuan dan konsumen muda," lanjutnya.
Ramainya penggunaan e-commerce juga didukung oleh hadirnya gadget yang dilengkapi dengan koneksi internet kecepatan tinggi.
"Fenomena pengguna smartphone yang dilengkapi dengan fasilitas internet menjadi semacam peluang luar biasa bagi perdagangan melalui e-commerce," lanjutnya.
Dia juga mengungkapkan bahwa gelaran Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) terbukti dapat memicu konsumen untuk lebih mencermati dan mengutamakan pembelian produk melalui e-commerce. Peserta Harbolnas pun terus meningkat setiap tahunnya. Awalnya hanya 7, kini sudah mencapai 140 perusahaan pada 2015. (tyo)