Awal bisnis ini dimulai dengan penunjukan Robert Cattanach sebagai Presiden Direktur Nokia Indonesia, yang juga menandakan ambisi mereka menguasai industri perangkat telekomunikasi di Indonesia.
"Di penyedia jaringan mobile 4G kami nomor satu dengan market share (digabungkan) 29 persen dan di fixed broadband pun juga nomor satu dengan market share 35 persen," ujar Cattanach, saat ditemui sejumlah media, di Restoran Harum Manis, Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Indonesia, Cattanach tak menjelaskan secara gamblang berapa market share mereka. Namun dia merujuk pada fakta bahwa sebelum bergabung, baik Nokia dan Alcatel mempunyai pangsa pasar yang tinggi dibandingkan Ericsson atau Huawei.
Kendati baru memimpin Nokia Indonesia pada awal Januari 2016 lalu, Cattanch mempunyai track record yang panjang dalam memimpin perusahaan ini di sejumlah negara.
Dia pun bukan orang sembarangan di industri perangkat telekomunikasi, karena pernah juga berkecimpung bersama Alcatel dan sukses meloloskan proyek senilai US$3,5 miliar dengan operator Telsra Australia.
Sekadar diketahui, Perusahaan penyedia infrastruktur telekomunikasi asal Finlandia membeli seluruh saham Alcatel-Lucent asal Perancis dengan nilai sekitar US$16,6 miliar atau sekitar Rp213 triliun pada Rabu 15 April 2015.
Penggabungan dua perusahaan ini membuat mereka menjadi perusahaan infrastruktur telekomunikasi terbesar kedua secara global di belakang Ericsson asal Swedia. (adt)