Jawara Imagine Cup Indonesia akan Berlaga di Tingkat Dunia

Aqmal Maulana, CNN Indonesia | Kamis, 07/04/2016 11:28 WIB
Microsoft telah menentukan tiga pemenang kompetisi Imagine Cup 2016. Para pemenang akan dibawa untuk kembali berkompetisi semi final di tingkat dunia. Tim Hoome Studio saat memenangkan Microsoft Imagine Cup 2016 (CNN Indonesia/Aqmal Maulana)
Jakarta, CNN Indonesia -- Microsoft telah menentukan tiga pemenang kompetisi Imagine Cup 2016. Para pemenang akan dibawa untuk kembali berkompetisi semi final di tingkat dunia.

Ada satu pemenang untuk tiga kategori yang dilombakan. Kategori Game dijuarai oleh None Developers dari Universitas Trunojoyo Madura. Mereka membuat game Froggy & The Pesticide yang karakter utama Froggy.

Kemudian untuk kategori World Citizenship dimenangkan oleh tim Garuda45 yang terdiri dari mahasiswa University of Edinburg, University College London dan King's College London. Mereka membuat aplikasi untuk mendeteksi bakteri tuberkulosis melalui dahak.



Lantas untuk kategori Innovation dijuarai tim dari Universitas Telkom dan Institut Teknologi Bandung. Mereka buat aplikasi smartphone bernama Hoome untuk mendeteksi pengguna melalui sensor perangkat wearable, seperti smartwatch, smartband dan lainnya.

"Tubuh manusia mengandung elektron yang bisa berubah-ubah sesuai dengan mood dan tingkat stress. Sensor-sensor yang terpasang di tubuh kita bisa mendeteksi hal tersebut," kata Dody Qori Utama, Biomedical Expert Institute Teknologi Bandung saat acara Final Microsoft Imagine Cup 2016 Indonesia.

Dody dan para pemenang Imagine Cup 2016 lainnya akan dijadwalkan akan berlomba dengan 33 tim lainnya dari Asia Pasifik untuk merebut tiket final di Amerika Serikat.

Tampilan aplikasi Hoome pada platform Windows 10


Bagaimana Hoome Bekerja?

Hoome mengumpulkan data-data dari wearable apa pun yang sedang dipakai pengguna, dari sini kemudian bisa disimpulkan bagaimana kondisi pengguna, tingkat stress, mood atau kondisi kesehatan.

Selain itu Hoome juga bisa dibuat untuk mengatur alat elektronik seperti lampu, AC, radio, pemutar musik, pengharum ruangan, dan TV.

"Ada tiga bagian, perangkat wearable, aplikasi, dan Windows Azure. Perangkat wearable berfungsi sebagai sensor, lalu terkoneksi dengan aplikasi dan Windows Azure sebagai basis data," Dody menjelaskan.

Agar bisa terkoneksi dengan berbagai perangkat elektronik, Dody bersama dengan timnya memanfaatkan koneksi Bluetooth.

Tim Hoome Studio saat mendemokan produknya (CNN Indonesia/Aqmal Maulana)
Lalu bagaimana dengan perangkat rumah tangga yang tak memiliki modul Bluetooth seperti lampu rumah atau pengharum ruangan? Solusinya adalah dengan menggunakan stop kontak AC yang terhubung dengan Arduino sebagai pengendalinya.

Dengan begitu, perangkat apapun bisa dicolokkan ke stop kontak tersebut supaya bisa 'bergabung' dengan platform smarthome yang sudah dirancangnya.

Untuk mengumpulkan data-data dari cara kerja setiap perangkat elektronik dan kebiasaan masing-masing pengguna, Dody mengaku sudah melakukannya sejak tahun 2010.

"Saya sendiri bekerja di biomedik dari tahun 2010 dan kerjaannya mantengin biosignal. Sinyal manusia saya tangkap beserta kondisi-kondisi algoritmanya," ujar Dody.

Saat ini, Hoome sendiri sudah diimplementasikan pada sebuah rumah sakit di Bandung.

"Ada yang minta tolong kita untuk merancang sebuah ruangan dengan Hoome supaya orang lahiran bisa lebih nyaman karena platform kami bisa menyesuaikan jenis musik, suhu AC, dan lain-lain," tutup Dody.

(eno)