Trump yang berasal dari Partai Republik mengklaim bahwa ia adalah salah satu "bintang hebat" di jejaring sosial besutan Mark Zuckerberg itu.
"Saya menyukai Facebook dan saya sangat sukses di jejaring sosial itu. Kalau tidak salah kami sudah dapat 7 juta orang (yang memberi likes laman Facebook). Saya pikir ada 16 atau 17 juta orang di Facebook, Twitter, dan sebagainya. Belum ada yang (mendapat likes) sebanyak itu," ungkap Trump kala itu, seperti dilansir dari Gizmodo.
Ia menyambung, "menurut saya Facebook itu bagus dan saya tidak bisa membayangkan mereka melakukan sesuatu (untuk menghentikan kampanye). Ada orang yang bilang saya adalah salah satu bintang besar di Facebook jadi kita lihat saja apakah Facebook akan melakukan sesuatu. Facebook adalah cara baik untuk berkomunikasi, seperti Twitter."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun tentu saja jika dibandingkan Presiden Barack Obama mereka tertinggal jauh. Laman Facebook Obama menghasilkan lebih dari 48 juta likes.
Sebelumnya ada bocoran hasil pemungutan suara internal para karyawan Facebook mengenai hal-hal yang mereka ingin tanyakan kepada Zuckerberg.
Pertanyaan tersebut dianggap krusial sebab Facebook digunakan oleh lebih dari 1 miliar orang di seluruh dunia, dan perusahaan bisa bisa saja membenahi algoritma untuk membenamkan konten Trump.
Seorang profesor etika jurnalisme di University of Wisconsin-Madison Robert Drechsel menciptakan dilema mengenai posisi Facebook. Menurutnya, Facebook memiliki tanggung jawab yang sama seperti perusahaan media lain,
Ia menilai, Facebook harus menyediakan ulasan atau pemberitaan yang cermat, akurat, adil, utuh, dan kontekstual. Pada intinya, jika Facebook menyingkirkan konten Trump sifatnya legal, namun tidak etis. (tyo)