Dalam satu pekan terakhir, BMKG melaporkan ada dua pesawat asing yang mengalami turbulensi ketika melintasi langit Indonesia, yakni Etihad Airways EY-474 dengan rute Abu Dhabi-Jakarta dan Hongkong Airways HX-6704 rute Denpasar-Hong Kong.
Dikutip dari siaran pers pada situs resmi BMKG, turbulensi dialami oleh pesawat Etihad Airways pada saat berada di atas pulau Sumatera bagian selatan pada ketinggan 37 ribu kaki di atas permukaan laut, pada 4 Mei 2016 lalu sekitar pukul 13.00 - 14.00 WIB.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Federal Aviation Adminstration (FAA), pesawat tersebut mengalami perubahan ketinggian dan arah dengan cepat sehingga pesawat tidak dapat terkontrol dalam beberapa saat karena kekuatan turbulensi yang dialami sudah berada pada tingkat severe (parah).
Kejadian inilah yang disebut dengan CAT, yang terjadi biasanya terjadi pada lapisan atas atmosfer sekitar 30 ribu - 50 ribu kaki di atas permukaan laut.
Tiga hari berselang, pada 7 Mei 2016, giliran pesawat Hongkong Airways HX-6704 yang mengalami turbulen si pada ketinggian sekitar 41 ribu kaki di atas permukaan laut. Kejadian ini mengakibatkan 3 korban luka berat dan lebih 17 penumpang mengalami luka ringan.
Sama seperti yang dialami oleh pesawat Etihad Airways, turbulensi ini juga diperkirakan sudah berada pada tingkat severe. Namun dikarenakan skalanya kecil, sistem SIGWX (Significant Weather) chart milik World Area Forecast Centre (WAFC) tidak mendeteksi adanya CAT.
Kejadian beruntun dari turbulensi tingkat severe ini diindikasikan akibat peningkatan perbedaan kecepatan angin pada level atas pada level tropopause (39 ribu - 45 ribu kaki di atas permukaan laut). Hal ini menyebabkan shear (perbedaan arah dan kecepatan) yang besar yang berpotensi pada kejadian turbulensi.