Lubang raksasa tersebut bernama coronal hole, atau lubang korona. Banyak yang menduga lubang hitam raksasa itu mampu melahap Matahari dengan zat gelapnya, sehingga Bumi bisa terkena dampaknya menjadi planet yang dingin nan kelam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal tersebut memungkinkan material panas dari korona Matahari mencuat keluar dengan kecepatan tinggi. Karenanya, area lubang itu memiliki plasma yang kurang panas dibanding kawasan di sekitarnya. Itulah yang membuatnya muncul berwarna gelap dan seakan-akan berlubang.
"Lubang korona adalah sumber partikel angin surya berkecepatan tinggi yang berhembus keluar Matahari. Kecepatannya tiga kali lipat ketimbang angin antariksa manapun," jelas pihak NASA, seperti dikutip dari Business Insider.
Lubang korona dipercaya bisa muncul sewaktu-waktu, dalam hitungan pekan ataupun bulan. Wilayah yang 'dijajahi' pun bisa mencapai seperempat luas permukaan Matahari.
Berbahaya untuk Bumi?
Dugaan yang menggambarkan seakan-akan lubang korona Matahari berpotensi membahayakan kehidupan Bumi memang dianggap tidak benar.
Meski tidak menyebabkan kiamat yang menghancurkan alam semesta, lubang korona yang jelas memiliki dampak sendiri bagi Bumi.
Menurut pusat yang memantau cuaca antariksa Space Weather Prediction Center (SWPC), angin surya yang dilepaskan dari korona Matahari bisa memicu terjadinya badai Matahari.
Badai Matahari tersebut kemudian dinilai bisa mengganggu satelit dan sistem komunikasi radio. Selain itu, aurora juga bisa tercipta dari badai Matahari tersebut.
[Gambas:Youtube]