Komisi I DPR Ingatkan Potensi Bahaya Pokemon Go

Aditya Panji, CNN Indonesia | Minggu, 17/07/2016 21:30 WIB
Wakil Ketua Komisi I DPR T.B. Hasanuddin mengingatkan terdapat pola real time dan real location di Pokemon Go yang dikhawatirkan bisa dimanfaatkan pihak lain. Seorang pengguna mencari monster dalam Pokemon Go di Flinders Stret Station, Melbourne, Australia, pada 13 Juli 2016. (Robert Cianflone/Getty Images)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Ketua Komisi I DPR-RI T.B. Hasanuddin mengingatkan para anggota parlemen mengenai potensi bahaya dalam permainan Pokemon Go yang tengah ramai di tengah masyarakat, karena terdapat pola real time dan real location yang dikhawatirkan bisa dimanfaatkan pihak lain.

Hasanuddin menilai, jika kelak aplikasi tersebut telah diluncurkan di Indonesia maka bisa dimanfaatkan sebagai mekanisme penjejak oleh sistem aximuth rocket launcher.

Permainan tersebut dinilai juga bisa dimanfaatkan oleh kelompok untuk menjebak korban dalam melakukan tindakan kejahatan. Tentu, ini sangat membahayakan bagi setiap orang yang lengah terhadap musuh, tutur mantan sekretaris militer itu.


Menurut Hasanuddin, pola yang dibaca oleh Pokemon Go adalah pergerakan dari satu titik ke titik lain. Jadi dalam bidang pencarian data, lokasi dikenal sebagai recection dan intersection.

"Misalnya recection. Anda di jarak tertentu di depan saya, saya kasih senter dan sampai ke muka anda. Ada pancaran tenaga. Tinggal dilihat arahnya berapa, jaraknya berapa derajat, dengan dua dimensi itu saja, sudah diketahui posisi Anda," katanya seperti dikutip dari Antara.

Selain itu, dalam bidang pencarian data ini disebut Hasanuddin juga dikenal dengan istilah intersection yang dianalogikan sebagai rumus perhitungan melalui titik persimpangan matematis.

"Anda di sebuah tempat, kemudian dari titik A ke titik B. Dari titik A ditembakkan ke Anda, lalu dari titik B juga. Lalu dilihat berapa derajat dari masing-masing titik, perpotongannya adalah posisi Anda. Itu bisa diaplikasiakan di dunia mana saja, termasuk geospasial, penginderaan jarak jauh," ujar mantan ajudan presiden B.J. Habibie ini.


Para pejabat negara di dalam dan luar negeri telah mengingatkan agar Pokemon Go tidak dimainkan di wilayah-wilayah tertentu yang penting secara kenegaraan, termasuk untuk para prajurit yang sedang menjalankan dinas.

Secara umum, Pokemon Go memang memanfaatkan teknologi peta digital dan GPS untuk menandai sebuah tempat sebagai Pokestop (tempat untuk mendapat peralatan menangkap dan melatih monster) juga Pokemon Gym (tempat untuk monster bertarung). Dengan teknologi yang sama game ini bisa mengetahui lokasi penggunanya.

Sementara fitur kamera ponsel bisa diaktifkan dalam modus augmented reality ketika sedang menangkap monster. Tapi, fitur ini masih mungkin untuk dimatikan sehingga pengguna tak memakai fitur kamera saat menangkap monster.


Sejumlah negara Timur Tengah telah mengungkap kewaspadaan terhadap game ini. Kementerian Dalam Negeri Kuwait, meminta, pengguna harus menahan diri untuk mengarahkan kamera ponsel saat menangkap Pokemon di lokasi penting seperti depan istana, masjid, fasilitas minyak, dan pangkalan militer.

Wakil Menteri Dalam Negeri Kuwait, Suleiman al-Fahd menegaskan, permainan ini berbahaya karena melibatkan pemanfaatan kamera dalam jarak yang dekat pada sebuah objek. Ponsel pintar pengguna disebutnya mentransfer gambar pada situs milik pihak ketiga.

Saat ini Pokemon Go yang dikembangkan Niantic, Pokemon Company, dan Nintendo, baru hadir secara resmi di lima negara yaitu Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Jerman, dan Inggris. Ia dijanjikan hadir dalam waktu dekat di kawasan Asia.


Kendati belum hadir di kawasan Timur Tengah, Reuters melaporkan sudah ada warga di sana yang memainkan Pokemon Go dengan usaha mengunduh aplikasi dari sumber lain.

Regulator telekomunikasi Uni Emirat Arab, Telecommunications Regulatory Authority (TRA), mengimbau para warga untuk menunggu peluncuran resminya di negara itu agar terhindar dari tindakan "pelanggaran privasi pengguna."

"Penjahat siber bisa menyebar program jahat yang menyamar sebagai aplikas ini. Memakainya sebelum rilis di toko aplikasi, bisa merusak sistem operasi atau bisa juga memata-matai pemiliknya," tulis pernyataan resmi TRA. (Antara/adt)