Robot NASA di Mars Kini Bisa Tembaki Batu 'Sesuka Hati'

Hani Nur Fajrina, CNN Indonesia | Senin, 25/07/2016 14:02 WIB
Robot NASA di Mars Kini Bisa Tembaki Batu 'Sesuka Hati' Robot penjelajah Curiosity Rover di situs batu Buckskin. (REUTERS/NASA/JPL-Caltech/MSSS/Handout)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penjelajah robotika Curiosity milik NASA yang selama ini mendiami Planet Mars telah mengalami peningkatan peranti lunak. Curiosity sekarang memiliki laser otonom sendiri.

Tim Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA belum lama ini memperbarui peranti lunak Curiosity pada instrumen laser agar ia tidak melulu bergantung pada keputusan tim ilmuwan di Bumi mengenai target batu di Mars yang perlu diteliti.

Melansir situs resmi NASA, laser tersebut akan dimanfaatkan oleh pesawat antariksa robotika ini untuk menganalisis komposisi ilmiah dari batu dan tanah Mars.


Peranti lunak tersebut bernama AEGIS yang memiliki kepanjangan Autonomous Exploration for Gathering Increased Science. Sebelumnya AEGIS sudah pernah dipakai untuk rover robotika Opportunity.

Curiosity yang ukurannya mirip mobil itu tinggal menembaki target dengan laser berkekuatan kecil, lalu meneliti gas yang dihasilkan menggunakan spektometer.


Spektometer sendiri gunanya untuk merekam panjang gelombang warna dari plasma yang dikeluarkan oleh tembakan laser. Dari situ, tim ilmuwan NASA bisa menentukan komposisi ilmiah apa yang terkandung.

Tentu saja Curiosity menggunakan instrumen kamera ChemCam yang fungsinya untuk melacak apa yang akan diteliti selanjutnya.

Sebelum dilengkapi laser otonom, target yang dilacak ChemCam masih dikendalikan oleh tim ilmuwan setelah mereka menerima kiriman gambar langsung dari Curiosity.

"Instrumen otonom ini sangat berguna khususnya di saat-saat sukar, misalnya saat jadwal aktivitas di Bumi, Mars, dan pesawat antariksa mengalami keterlambatan dalam berbagi informasi," ujar teknisi robotika Tara Estlin, yang juga pimpinan pengembangan AEGIS di JPL NASA.


Sekadar diketahui, Curiosity yang sudah hampir empat tahun 'menghuni' Planet Merah itu bertugas menginvestigasi lapisan geologis di bagian bawah Mount Sharp di Mars.

Ia juga menganalisis bukti tentang bagaimana lingkungan di Mars berubah miliaran tahun lalu dari dunia yang dipercaya mampu menopang kehidupan menjadi jagat yang begitu kering dan tidak ramah. (tyo)