Jerman Desak Facebook Aktif Lawan Ujaran Kebencian

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Rabu, 31/08/2016 06:00 WIB
Jerman Desak Facebook Aktif Lawan Ujaran Kebencian Ilustrasi. (Carl Court/Getty Images)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Dalam Negeri Jerman Thomas de Maziere berkunjung ke kantor Facebook di Berlin untuk mendorong raksasa jejaring sosial tersebut lebih proaktif memfilter peredaran konten terlarang di situs mereka.

Lebih spesifik, de Maiziere menggarisbawahi agar Facebook menyaring konten yang mengandung ujaran kebencian untuk menjaga keamanan di tengah masyarakat.

"Facebook sebaiknya lebih berinisiatif memusnahkan segala konten rasis atau seruan kekerasan di berbagai akun dan halaman tanpa menunggu komplain datang," ujar de Maiziere seperti dikutip dari Reuters. "Facebook punya posisi penting secara ekonomi seperti perusahaan besar lain sehingga mengemban tanggung jawab sosial yang besar."


Pemerintah Jerman lama dikenal kritis terhadap Facebook. Sejumlah pemimpin politik dan pemerintah mengeluhkan jejaring sosial terbesar dengan 1,6 miliar pengguna per bulan ini, lambat merespons isu ujaran kebencian dan pesan-pesan bernada anti-imigran.


Tahun lalu, Menteri Hukum Heiko Maas menekankan Facebook wajib patuh terhadap regulasi Jerman yang melarang sentimen rasis meski di Amerika Serikat hal itu dibebaskan.

Di sisi lain, de Maiziere mengakui upaya Facebook dalam mengembangkan peranti lunak yang lebih baik dalam mengidentifikasi konten terlarang dan memuji usaha mereka memerangi pornografi anak. Menurutnya pengguna berhak mendapat peringatan untuk mencegah penyebaran konten ilegal.

"Namun semua tergantung perusahaan untuk memastikan tujuan itu tercapai. Perusahaan dengan reputasi inovasi besar harus punya reputasi yang baik dalam wilayah ini," ucap de Maiziere.


Eva-Maria Kirschsieper, kepala Kebijakan Publik Facebook di Jerman, mengatakan diskusi antara pihaknya dengan pemerintah akan terus berlanjut untuk menekan jumlah konten terlarang.

"Kami melihat ini sebagai bagian dari masyarakat dan ekonomi Jerman," ungkap Eva. "Dan kami sadar dengan tanggung jawab besar dan kami ingin menjalankan tanggung jawab tersebut. Kami menganggap isu ini dengan sangat serius."

Mark Wallace, mantan duta besar AS kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa yang saat ini mengepalai Counter Extremist Project (CEP) di New York, menyatakan Facebook perlu bekerja lebih keras memerangi ekstremis mengingat posisinya sebagai pemimpin media sosial.

"Dari semua perusahaan, Facebook telah melakukan banyak hal, tapi mereka baru sadar pemanfaatan media sosial sebagai senjata tidak bagus untuk bisnis mereka dan masyarakat," ucap Wallace.


CEP saat ini masih menyempurnakan uji coba software baru yang dapat mengidentifikasi gambar dan video baru yang dipublikasikan akun media sosial ISIS dan kelompok ekstremis lain sehingga bisa segera diberantas secepat mungkin.

Pada awal tahun, CEO Facebook Mark Zuckerberg mengunjungi Berlin sebagai respons dari kritik yang datang. Ia mengaku telah belajar dari pengalaman Facebook di Jerman bahwa kelompok imigran patut mendapat perlindungan dari ujaran kebencian di ranah online. (adt)