"Platform media sosial digunakan untuk memfasilitasi perdagangan manusia," ucap Zainab Hawa Bangura, perwakilan khusus PBB untuk kekerasan seksual di wilayah konflik. "Wanita dan anaka-anak berada di forum yang sama dengan senapan dan granat.
Media sosial telah lama bergulat menghentikan aksi terorisme. Upaya terbaru mereka mulai terlihat dari kemampuan media sosial mengendus aktivitas terkait terorisme dan melacak pelaku kejahatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekitar 100 ahli dari Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) berlatar belakang penegakan hukum, teknologi, dan media baru-baru ini mengadakan lokakarya selama dua hari membahas soal perdagangan manusia di Timur Tengah. Dari pertemuan tersebut, PBB merilis sebuah laporan yang menunjukkan perbudakan terhadap 5.000 penduduk Yazidi -kelompok etnis Kurdi di Timur Tengah. Laporan tersebut juga menemukan adanya kelompok etnis dan komunitas lain yang menjadi korban perbudakan.
Gadis dan wanita Yazidi kerap menjadi mangsa ISIS berkat iming-iming menjadi istri para kombatan ISIS. Setelah terjebak, mereka akan akan dijual atau dibarter.
ISIS menggunakan aplikasi terenkripsi seperti Telegram untuk melelang wanita yang mereka tangkap, lengkap dengan umur, status pernikahan, lokasi, dan harganya. Tak hanya Telegram, ISIS juga kerap menggunakan Facebook, Youtube, dan majalah online. (pit)