Meski telah merakit ulang versi baru Galaxy Note 7, perangkat pengganti ponsel berlayar jumbo itu tetap mengalami cacat sehingga menyebabkan insiden yang sama seperti sebelumnya yakni meledak hingga terbakar.
Demi menjaga kepercayaan konsumen, Samsung mengirim notifikasi secara langsung kepada para pengguna flagship lini Galaxy S7.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasca keputusan Samsung untuk menghentikan produksi dan penjualan Galaxy Note 7, firma analisis seperti IDC Indonesia menilai tindakan tersebut sudah tepat demi menjaga brand.
Di sisi lain, sejumlah analis turut memprediksi bahwa akan banyak pengguna Samsung yang beralih ke merek lain dengan sistem operasi Android lainnya.
"Rontoknya Samsung memberikan kesempatan jauh lebih besar bagi Google bersama Pixel yang mencuri perhatian pasar dibanding pada merek Nexus," ujar Richard Windsor, analis dari Edison Investment Research.
Dampak lain dari meredupnya Samsung atas insiden Galaxy Note 7 adalah larinya konsumen ke rival utama mereka, Apple. Di San Francisco, di mana Apple bernaung, sejumlah pelanggan Samsung telah beralih ke iPhone.
Meski demikian, menurut sejumlah analis lain, besar kemungkinan pula Samsung tetap jadi pemimpin pasar dalam kelas ponsel premium, karena ponsel lain macam LG V20 dan Google Pixel masih butuh waktu hingga akhir Oktober untuk tersedia di pasar.
Sekadar diketahui, Samsung menarik 2,5 juta Note 7 dari pasar pertama kali pada awal September menyusul sejumlah laporan konsumen bahwa ponsel tersebut meledak.
Kejadian serupa tetap terjadi setelah Samsung mengganti baterai Galaxy Note 7 yang diklaim lebih aman. Akhirnya pada 11 Oktober lalu, Samsung secara resmi menghentikan produksi dan penjualan Galaxy Note 7 di seluruh dunia.