Operator Bisa Sakit Bila Perang Tarif Masih Berlanjut

Hani Nur Fajrina, CNN Indonesia | Jumat, 25/11/2016 11:17 WIB
Telkomsel mengkritik kembalinya perang tarif yang dilakukan oleh operator lain. Sebab itu akan membuat industri telekomunikasi tak sehat. Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah (tengah) (Foto: Dok.Telkomsel)
Bandung, CNN Indonesia -- Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah mengomentari soal bahaya dari perang harga atau tarif yang dilakukan sejumlah pemain besar operator telekomunikasi Indonesia.

Bukan rahasia lagi, sejumlah pemain besar seperti Indosat Ooredoo dan XL Axiata yang gencar melakukan perang tarif demi mengakuisisi pengguna lebih banyak.

Menanggapi hal ini, Ririek mengatakan, bahwa para pemain perang harga bisnisnya tidak akan sustain alias berkelanjutan.


"Perang harga itu sifatnya short term (jangka pendek). Otomatis tidak akan sustain bisnisnya," ujarnya di sela Media Gathering Telkomsel di Bandung, Kamis malam (24/11).

Menurutnya, perang tarif bisa mengorbankan kualitas layanan yang diberikan kepada pelanggan.

"Kualitas layanan itu bakal memburuk, dan ekstremnya, operator bisa-bisa tutup kalau terus-terusan seperti itu," sambungnya.

Komentar Ririek ini menyusul opininya mengenai industri telekomunikasi Tanah Air untuk 2017.

Ririek berharap bahwa tahun depan industri bisa lebih sehat karena menurutnya saat ini belum sepenuhnya sehat.

Ia pun menyebutkan indikator "industri sehat", yakni layanan operator harus terjangkau oleh masyarakat dari sisi harga namun tetap sesuai kualitas yang diberikan.

"Kedua, si penyedia operator itu harus sehat juga dan harus sustain karena ia berkewajiban membangun jaringan di semua pelosok. Yang terakhir, yang itu tadi, layanannya harus benar-benar tersedia di seluruh Nusantara, dari Sabang sampai Merauke," tukasnya.

Ia pun berkaca pada analisis dari berbagai analis sejumlah lembaga riset yang mengatakan bahwa pertumbuhan industri seluler pada 2017 mampu naik sebanyak sembilan hingga 10 persen.

Masih mengenai harapan industri sehat, Telkomsel juga memaparkan bahwa hal tersebut bisa tercapai apabila ada sinergi positif dari pemain operator dan pemerintah.

Upaya yang bakal dilakukan anak usaha Telkom ini kepada pemerintah adalah memberi sumbang saran dan masukan sebagai bahan pertimbangan dalam pembuatan regulasi.

"Operator yang ada di lapangan, jadi pada dasarnya kami lebih tahu tentang keadaan sebenarnya seperti apa," kata Ririek.

Kemudian perusahaan juga memberi pemahaman kepada seluruh stakeholder termasuk pengguna mengenai layanan yang baik itu seperti apa.

Sekadar diketahui, Telkomsel telah menambah sekitar 20 ribu menara BTS pada kuartal tiga 2016 yang tersebar di berbagai daerah Indonesia.

Menjelang tutup tahun, Telkomsel berencana membangun 723 BTS baru di titik-titik konsentrasi demi persiapan tahun baru. (tyo)