Keempat perusahaan teknologi asal AS ini berkomitmen untuk meningkatkan konten bernada ekstrimis dari layanan mereka dengan membuat database khusus.
Di dalam database tersebut akan berisi foto dan video yang diduga digunakan oleh kelompok ekstrimis dalam merekrut dan mempromosikan aksi teror.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami berharap kolaborasi ini bisa meningkatkan efisiensi memerangi isu konten online yang kerap disalah gunakan golongan ekstrimis, tak ada lagi ruang untuk mempromosikan terorisme" tulis pernyataan bersama keempat perusahaan seperti dilaporkan Reuters.
Perusahaan teknologi kerap mendapat intervensi mengenai aturan yang diberlakukan seiring meningkatnya tekanan dari pemerintahan di Negara-negara Barat untuk menghilangkan konten berbau militan.
YouTube dan Facebook belakangan secara otomatis mulai menghilangkan konten bernada teror. Namun banyak penyedia konten yang saat ini diketahui melanggar aturan yang diberlakukan.
Sementara pada medio Februari hingga Agustus tahun ini, Twitter telah membekukan 235 ribu akun yang berisi konten bernada teror.
Setiap konten foto atau video yang ditandai dan masuk ke database itu tidak akan otomatis dihapus seperti yang dijanjikan, masing-masing perusahaan akan mengeceknya secara manual sebelum mengambil keputusan.
Database bersama ini mulai bisa dipakai bersama pada awal tahun 2017 dan didorong akan melibatkan lebih banyak perusahaan melalui skema kerjasama. (evn)