Banyak juga yang menyangka, bekerja di Google bakal menyenangkan bak di surga. Apalagi melihat dari interior kantor yang penuh warna dan nyaman, hingga anggapan semua makanan di sana gratis untuk semua orang.
Sayangnya, bagi segelintir orang yang dulunya dan masih bekerja di Google, tak semuanya berjalan indah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu seorang mantan teknisi peranti lunak bernama Vlad Patryshev juga berpendapat, orang-orang yang bekerja di sana susah untuk diajak diskusi.
"Sangat sulit untuk berdiskusi tentang masalah apapun kecuali dia adalah temanmu yang sering kau ajak mengobrol. Diskusi objektif sangat jarang, karena mereka sangat fokus dan tidak tertarik pada opini orang lain," ucapnya.
Kemudian seseorang yang tidak mencantumkan namanya alias anonim turut nimbrung dan mengatakan, "saya kenal orang yang telah bekerja lebih dari delapan tahun dan tidak pernah dipromosikan."
Masih dari anonim, ia menceritakan pengalaman buruknya saat pertama kali direkrut oleh perusahaan pimpinan Sundar Pichai tersebut.
"Saya diajak Google agar bisa mengisi posisi manajemen. Di saat yang sama direkrut, ada orang lain yang namanya mirip dengan saya. Lalu pihak HRD kelimpungan sendiri dan saya malah ditempatkan di posisi junior ketimbang yang sejak awal dijanjikan. Kontrak karyawan pun sangat ambigu dan staf HRD yang mengurusnya hengkang dari perusahaan, jadi tidak ada yang membereskan masalah ini," ungkapnya.
Pengakuan lain datang dari Jeff Nelson yang berperan di balik terciptanya Google Chrome.
Menurutnya, apapun yang orang-orang dengar tentang Google adalah omong kosong.
"Hal-hal yang Anda dengar tentang Google adalah omong kosong. Kebanyakan omong kosong ini disebarkan oleh orang dalam perusahaan, karena bisa menaikan reputasi. Jika ada orang yang memberi omong kosong yang menakjubkan, ia akan disanjung oleh yang lain," ungkap Nelson. (hnf)