Karyawan Google itu menyatakan bahwa Google telah menuding para pegawainya saling memata-matai untuk membocorkan informasi rahasia. Google pun dinilai terlalu mengekang kebebasan para pegawainya.
Dalam gugatan tertulis itu disebutkan bahwa Google tidak memperkenankan kebocoran informasi ke media. Mereka juga melarang pegawainya membahas topik mengenai pekerjaan yang melingkupi gosip kantor, upah, pelanggaran hukum, dan lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih jauh, Google dituduh memaksa para pegawainya untuk menutup mulut soal potensi pelanggaran hukum yang mereka lakukan walaupun kepada pengacara perusahaan sendiri.
Google diklaim sangat takut informasi seperti itu jatuh ke tangan penegak hukum maupun legislator.
Google membantah isi gugatan itu. Kepada Mashable, juru bicara Google menyebut gugatan tadi tanpa dasar.
"Kami akan bersemangat melawan gugatan itu karena tak ada dasarnya," kata sang juru bicara melalui surat elektronik.
Ia melanjutkan, "kita sangat berkomitmen pada budaya internal yang terbuka dan saling berbagi informasi bisnis dan detail peluncuran produk dengan para karyawan. Transparansi adalah bagian besar dari budaya kami."
Sekadar diketahui, mantan manajer Nest --perusahaan yang bersaudara dengan Google-- pada bulan Juni lalu memprotes perlakuan bekas perusahaannya yang mengekang informasi begitu ketat.
Mantan manajer Nest ini kemudian dipecat setelah memposting keluhan pegawai mengenai CEO Nest Tony Fadell di akun Facebook karena dinilai melanggar pedoman klasifikasi data milik Google. (hnf/tyo)