Lalu saya pun bertanya, kalau sudah tahu begitu, apa rencananya? Dia menjawab, hanya ingin hidup tenang dan meninggalkan Facebook.
Apa yang terjadi dengan teman saya itu, sesuai dengan studi berjudul Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking oleh sejumlah peneliti di Denmark, yakni The Happiness Research Institute.
Jurnal itu dipublikasikan pada tahun 2015 dan pada intinya menyimpulkan bahwa berhenti menggunakan Facebook berdampak pada tingkat kebahagian yang lebih baik. Studi ini mengajak koresponden untuk berhenti membuka Facebook selama seminggu.
Lihat juga:Asal Mula Situs Hoax Berkembang di Indonesia |
Di jurnal tersebut disebutkan masalah besar dengan penggunaan Facebook yang menawarkan kesempatan tak terbatas untuk perbandingan sosial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"kita menentukan layak atau tidak kehidupan sosial dan pribadi kita sendiri didasarkan pada bagaimana kita menumpuk 'hasil' dari orang lain. Akibatnya, kita terus-menerus membuat diri dan evaluasi lainnya di berbagai domain (misalnya, daya tarik, kekayaan, kecerdasan, dan kesuksesan),” tulis jurnal itu soal Teori Perbandingan Sosial.
Ilustrasi (Foto: Thinkstock/Ocus Focus) |
Studi Denmark menemukan bahwa seminggu tanpa Facebook memberikan manfaat terbesar bagi tiga jenis pengguna:
1. pengguna berat Facebook
2. Orang-orang yang pasif menggunakan Facebook
3. Pengguna rentan terhadap kecemburuan
“Dari hasil survei [Saya] menunjukkan bahwa mengambil istirahat dari Facebook memiliki efek positif pada dua hal: Kepuasan hidup kita meningkat dan emosi kita menjadi lebih positif,” tulis para peneliti itu lagi.
Nah, kalau ingin hidup tenang di tahun 2017 ini, kenapa tidak mengurangi saja menggunakan Facebook. (tyo)
Ilustrasi (Foto: Thinkstock/Ocus Focus)