Kudo (Kios Untuk Dagang Online) merupakan platform O2O (offline to online) yang menghubungkan penjual tradisional yang belum memiliki akses layanan perbankan tetap bisa bertransaksi daring.
Dua pendiri Kudo, Agung Nugroho dan Albert Lucius merupakan mahsiswa UC Berkeley yang mulai merintis startup mereka pada Juli 2014. Sebelum serius membesarkan Kudo, keduanya sempat berkarya untuk perusahaan ternama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Grab Resmi Akuisisi Startup Lokal Kudo |
Adanya kesenjangan keterbatasan akses internet, rekening bang dan kartu kredit mendorong keduanya untuk menyediakan solusi berdagang daring tanpa membebankan penjual dalam hal menyimpan barang dagangan.
Terbukti dalam waktu dua tahun, Kudo berhasil memberdayakan lebih dari 250 ribu wirausaha digital menjadi agen yang terdapat di seluruh Indonesia.
Dari segi transaksi, Hanna menekankan pembeli dan penjual akan melakukan transaksi dengan aman. Pembeli bisa mencari barang yang dibutuhkan dan memesannya kepada penjual yang telah mengantongi 'restu' sebagai agen Kudo.
Jika merasa ada masalah dengan barang yang dipesan, Kudo menerima pengembalian dan ongkos kirim gratis. Menariknya, Kudo juga memberikan pendampingan personal untuk agen dalam menjual dan mengatasi masalah yang mungkin ditemui.
"Khusus untuk agen kami selalu berusaha merekrut orang lokal karena mereka benar-benar memahami karakter pasar dan masyarakat setempat," imbuh Hanna.
Meski merekrut agen lokal, Hanna menekankan pihaknya tidak mau sembarangan memilih orang. Calon agen harus mengisi persayaratan data lengkap dan disetujui, serta bersedia memberika deposit untuk mengaktifkan akun Kudo.
Deposit tersebut seakan menjadi 'mahar' untuk agen memiliki toko daring mereka sendiri dan mulai menjual lebih dari tiga juta barang atau jasa.
Hingga saat ini Kudo mencatat sudah memiliki lebih dari 400 ribu agen di lebih dari 500 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia.