Padahal dalam waktu dekat, ExxonMobil memiliki rencana tidak hanya bermain sebagai produsen pelumas mesin penunjang industri, melainkan juga untuk kendaraan roda dua, empat atau lebih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang kalau motor misal cuma transmision aja. Transmision itu tidak sebanyak oli mesin. Oli mesin 10 ribu km ganti, kalau transmisi 80 ribu atau 100 ribu . Itu juga kapasitasnya tidak sebanyak oli mesin," ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Misal ada kendaran listrik tahan 50 km, kalau jalan. Nah kalau infrastruktur tidak mendukung, lalu di tol kehabisan listrik, apa malah tidak bikin macet? Jadi nanti akan lihat kota perkota bagaimana," ujarnya.
Oleh karenanya, Sigit yakin, jauh beberapa tahun ke depan, Indonesia masih akan memakai kendaraan seperti berbahan bakar minya. Jika berbeda, kendaraan hybrid lebih tepat ketimbang full listrik.
"Infrastruktur, kondisi jalanan sendiri. Kalau saya personal, menurut saya yang cocok buat Indonesia adalah hybrid. Jadi tetap pakai bahan bakar, tapi juga electric. Jadi untuk backup," ujar Sigit. (tyo)