Soal grup WhatsApp keluarga, ini menarik. Karena biasanya diisi para handai taulan atau kerabat mulai dari yang muda hingga sudah tua atau dituakan. Di sini masalahnya, tak semua 'bahagia' dengan kehadiran grup WhatsApp.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini yang membuat Wira mulai jengah melihat isi grup di WhatsApp keluarga. Karena postingan yang dikirim tak selamanya benar dan ditelan mentah-mentah.
"Biasa aja sih karena hiburan sendiri buat gue. Di grup keluarga bokap (bapak) gue sampai berantem milih Ahok sama bukan Ahok. Terus pada lomba ngirimin broadcast tentang pemilu, pembelaan masing-masing. Gue kalo left ga enak,” tambahnya.
Sementara pengguna lainnya, Yusuf Adrai juga masih bisa memaklumi share masif yang dikirimkan ke postingan di WhatsApp grup keluarga, karena baginya kehebohan ini hanya bersifat sementara.
"Gue liatnya ini cuma euforia momentum pilkada saja. Paling abis ini sudah adem ayem lagi," tambahnya.
Tak semua menanggap WhatsApp Grup keluarga itu sumber masalah. Seperti Diungkapkan Luh Nyoman yang merasa aplikasi itu menjadi sumber untuk saling mengabarkan bagi yang bertempat tinggal berjauhan.
"Enjoy di grup keluarga inti. Isinya ibu, kakak, adik. Soalnya hubungan mereka dekat dan mereka semua tinggal berjauhan. Ibu, adik di bali, nyoman di Bandung, kakak di Jakarta dan Kuala Lumpur," sebutnya.