Gamer, Sisa Kejayaan Laskar Penghuni Warnet

Eka Shantika, CNN Indonesia | Rabu, 26/04/2017 12:02 WIB
Gamer, Sisa Kejayaan Laskar Penghuni Warnet Ilustrasi Gamer (CNN Indonesia/Alvin Ramandey
Jakarta, CNN Indonesia -- Di awal tahun 2000-an keberadaan warnet alias warung internet pernah menjamur dan begitu jaya hingga ke sudut-sudut kota. Ruang-ruang peminjaman komputer dengan koneksi internet ini dapat mudah ditemui.

Itulah masa saat Yahoo Messenger sempat berjaya menggantikan MIRC 32, layanan messenger lawas yang mulai redup pamornya. Bagi Indonesia, masa-masa itu pula Google memulai karirnya sebagai mesin pencari yang memudahkan mencari informasi yang dibutuhkan tanpa harus susah mengingat-ingat nama situs yang dimaksud.

Namun, beberapa tahun belakangan pamor warnet terus memudar. Terutama setelah akses internet kian masif dan mudah didapat. Kebiasaan gamer bermain game pun ikut bergeser, semakin banyak orang lebih gemar memilih laptop ketimbang PC desktop, atau ponsel.

PC dan Gamer


Hal ini juga diakui seorang Gamer perempuan Indonesia, Monica Carolina. Dia adalah gamer perempuan pertama di Indonesia yang menjadikan game sebagai profesi. Istilahnya Gamer profesional. Ia mendirikan tim Gamer profesional yang berada dibawah payung NXA- diambil dari inisial Nixia. Nama itu kerap digunakan Monica saat awal bermain game.
Gamers, Sisa Kejayaan Laskar Penghuni WarnetFoto: Dok. nixiagamer.com

"Sekarang orang memang cenderung cari laptop atau smartphone. Gamer yang kebanyakan masih menggunakan PC bisa dibilang jadi harapan industri PC ada di Gamer," terang Monica.

Ia menambahkan sebenarnya PC bisa digunakan untuk apa saja. Namun ada juga yang memang sengaja dilabeli sebagai PC gaming.

Meski demikian, PC yang diincar para Gamer memiliki spesifikasi menengah ke atas. Bahkan ada yang rela merogoh kocek dalam-dalam untuk mendapat komputer dengan spesifikasi yang mumpuni.

Cukup di warnet

Hanya saja, tak semua Gamer mampu membeli komputer spesifikasi tinggi. Sebagian besar Gamer menurut Monica, harus cukup puas memainkan game dari warnet saja. Meski demkian, mereka ini biasanya juga memiliki pengetahuan soal hardware PC.

Menurut Monica, bagi kalangan Gamer keberadaan warnet game masih esensial dan sangat dibutuhkan. "Usaha warnet masih oke. Karena kan banyak turnamen dan banyak yang nge-tim. Kalau nge-tim perlu banget main di warnet."

Perlunya tim bermain bersama dan bertemu secara fisik, menurut Monica diperlukan untuk membangun kekompakan tim. Sebab, saat bermain online kita hanya dengar suara anggota tim lainnya.

Sementara saat bermain bersama dan bertemu fisik, mereka bisa saling lihat ekspresi langsung satu sama lain. "Bisa liat samping layarnya, bisa bantuin ngedukungnya langsung, dan dengerin ekspresi langsung. Itu penting."

Bahkan, untuk mendukung kegiatan para Gamer, menurut Monica salah satu vendor TI bahkan menyediakan sertifikasi khusus bagi warnet yang telah menyediakan PC gaming berstandar internasional. Warnet yang lolos sertifikasi ini dijamin perangkatnya paling lama berumur setahun.

Kisaran harga PC di warnet ini sekitar Rp7-10 juta. "Spesifikasi segitu udah cukup banget jalanin game terbaru meskipun ga sampe setting grafis di paling tinggi," jelasnya. Sebab, menurut Monica, jika Gamer bermain dengan PC yang berspesifikasi biasa saja, bisa jadi menimbulkan sedikit masalah saat bermain.

Standarisasi ini menurut Monica memudahkan Gamer yang ingin serius dan nyaman berlatih. Ia pun optimis, ke depan bisnis warnet gaming di Indonesia akan makin baik.