"Kalau menurut saya, masuknya ransomware ke Indonesia karena kesadaran masyarakat yang masih rendah akan bahayanya. Selain itu, perilaku masyarakat yang suka membuka situs-situs dewasa juga menjadi penyebabnya," papar Eko saat ditemui CNNIndonesia.com di kawasan Senayan, Senin (15/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alasan Indonesia menjadi sasaran menurut Eko adalah masih karena rendahnya edukasi sehingga ada potensi besar korban tang terpancing ransomware. Seperti diketahui, modus kejahatan siber yang satu ini hanyalah mencuri data untuk mengancam korban agar memberikan sejumlah uang.
Sementara itu, pencipta ransomware sendiri sangat sulit ditemukan. Cara yang paling penting ditempuh adalah dengan melakukan tindakan pencegahan.
"Kuncinya, pengguna internet harus menggunakan software yang update dan asli. Ini kan yang diserang hanya mereka yang pakai Windows XP, padahal Microsoft sudah umumkan mereka tidak lagi dukung sistem operasi ini. Selain itu, kalau mau pilih antivirus, pilih yang ada teknologi predict, prevent, detect dan respond," lanjut dia.
Pelindung atau antivirus yang mampu memprediksi dan menganalisis serangan yang bakal dan sudah pernah dilancarkan peretas.
Dengan kemampuan tersebut, sebuah antivirus akan mampu mencegah serangan yang akan datang dan mendeteksinya.
Namun tak itu, antivirus yang patut Anda pilih harus mampu mengeksekusi atau merespon virus dengan baik sehingga dampak serangan pada sistem, data dan infrastruktur bisa diminimalisir atau dihilangkan sama sekali.
Hingga saat ini, belum ada satupun program yang mampu men-deskripsikan data yang telah dicuri ransomware. Oleh karena itu, Eko menyarankan pada pihak yang belum dan sudah terkena dampaknya untuk membiasakan diri mencadangkan data pada memori yang aman dari sentuhan koneksi internet.