Pria yang kerap disapa Chief RA tersebut menjelaskan pemerintah melalui Kemkominfo membangun infrastruktur telekomunikasi di daerah perbatasan menggunakan dana Universal Service Obligation (USO). Untuk mendanai program perbatasan itu, lanjutnya, kementeriannya harus merogoh uang cukup dalam.
"Saya tanya sekarang, memang ada operator mau bangun di perbatasan? Memang ada operator sekarang yang bangun di perbatasan? Secara masif ya, secara serius, dan secara terencana. Ngga ada," kata Rudiantara di Djakarta Theatre XXI, Jakarta, Selasa (16/5).
Lihat juga:Ombudsman Laporkan Menkominfo ke Presiden |
Lebih jauh ia mencontohkan bagaimana kementeriannya membangun jaringan di 75 titik perbatasan di Kalimantan. Untuk membiayai pembangunan jaringan tersebut, ia mengaku pemerintah menggelontorkan dana hingga Rp500 juta selama setahun untuk satu titik perbatasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi sebenarnya program perbatasan Kominfo itu menguntungkan operator," imbuhnya.
"Kalau Telkomsel untung ya memang rejekinya, kenapa yang lain ngga mau," tukasnya.
Menurut Rudi, keputusan operator seluler yang absen di perbatasan merupakan hal wajar. Pasalnya daerah seperti itu kadung tak strategis secara bisnis.
Kendati begitu, ia bertekad melanjutkan komitmen pemerintah membangun jaringan telekomunikasi di perbatasan.
"Tapi sampai saat ini tidak ada operator yang sukarela secara strategis dan bilang mau bangun (infrastruktur) di perbatasan," pungkasnya.