Keamanan Printer Masih Dianggap Remeh Ahli TI

Ervina Anggraini, CNN Indonesia | Selasa, 06/06/2017 18:40 WIB
Keamanan Printer Masih Dianggap Remeh Ahli TI Lini printer HP A3 LaserJet dan 600 series (CNN Indonesia/Ervina Anggraini)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aksi peretasan kerap dikaitkan dengan serangan terhadap perangkat komputer atau ponsel saja. Padahal, peretasan juga bisa menyerang perangkat printer.

Hanya saja, Joseph Wagle, Direktur Global Security and Industry Consulting HP Inc mengatakan masih banyak orang kerap salah dalam memahami tingkat keamanan pada printer.

Menurutnya, baik orang awam maupun ahli TI hingga kini masih menganggap remeh kemungkinan serangan peretasan melalui printer.


"Anggapan mengenai printer tidak akan terinfeksi virus sebenarnya salah besar. Mengingat aksi penipuan terus berubah seiring dengan perubahan industri," imbuh Joseph kepada awak media.

Padahal, menurutnya printer merupakan sasaran empuk aksi peretasan. Untuk itu dibutuhkan tingkat keamanan, yang kerap dianggap suatu hal kompleks dalam sebuah bisnis.

Merujuk pada laporan Hewlett-Packard (HP), ada 64 persen printer yang terinfeksi malware, sedangkan 60 persen lainnya menjadi medium penyebaran virus ke perangkat lain yang terhubung dalam jaringan.

Menghadapi hal itu, Joseph menuturkan sejatinya ada  91 persen lebih praktisi TI yang peduli dengan keamanan komputer. Namun hanya ada 18 persen yang peduli dengan keamanan printer.

"Keamanan data kerap hanya dikaitkan dengan perangkat komputer saja, padahal kalau berbicara printer yang diamankan meliputi perangkatnya, data, hingga dokumen," pungkasnya.

Menjawab hal itu, Joseph mengutarakan HP berupaya memperkenalkan printer A3 LaserJet dan 600 series yang diklaim aman dari serangan hacker. Fitur multifungsi printer (MFP) menggabungkan performa dan efisiensi tinta serta kertas untuk kualitas dokumen yang lebih baik.
Keamanan Printer Masih Dianggap Remeh Ahli TIFoto: CNN Indonesia/Ervina Anggraini

Meski bisa terhubung dengan jaringan dan perangkat pintar melalui koneksi Near Field Communication (NFC), sejumlah fitur pintar diklaim akan mengamankan dokumen dan data dari peretasan. Fitur seperti BIOS firmware, control panel, storage media, capture, network management, hingga mobile printing diklaim bukan hanya memudahkan pengguna, tapi juga menghemat investasi pebisnis.

Dari 54 SKU printer yang dirilis secara global, General Manager Printing System Asia Pasific dan Jepang HP Inc, Ng Tian-Chong memastikan hanya akan memboyong 34 SKU ke pasar Asia Pasifik. Sementara yang akan dipasarkan di Indonesia hanya 16 diantara 34 SKU.

Menurutnya, preferensi pengguna Indonesia yang mencari kecepatan serta ukuran printer menjadi pertimbangan utamanya. Mengenai target industri yang disasar, ia mengaku ada dua segmen utama yakni korporasi dan pelaku UKM.

"Kami menyasar korporasi termasuk institusi keuangan yang umumnya sadar dengan aspek keamanan data. Sementara UKM kerap tak mau repot tapi menginginkan satu perangkat multifungsi jadi bukan hanya printer, tapi juga untuk memindai data," pungkas Ng.