Tim Telegram sempat membuat instruksi untuk mengaktifkan SOCKS5 melalui saluran informalnya.
Trik yang dibagikan termasuk langkah-langkah untuk memotong kemungkinan akses pemblokiran terhadap layanannya. Akses protokol jaringan SOCKS5 memungkinkan trafik data tidak kentara dari klien ke server melalui server proxy.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jauh sebelum diblokir di Indonesia, pemerintah Rusia melalui Layanan Federal untuk Pengawasan di Bidang Telekomunikasi, Teknologi Informasi dan Komunikasi Massa (Roskomnadzor) sudah lebih dulu memblokir akses Telegram di negaranya.
Telegram diminta memberikan informasi tentang perusahaan untuk memasukkannya ke dalam daftar penyelenggara distribusi informasi. Selain itu, Telegram juga sempat mendapat peringatan akan kemungkinan pemblokiran layanannya di Rusia lantaran menolak permintaan tersebut.
Di sisi lain, pemerintah Rusia berdalih pemblokiran dilakukan karena Telegram dan situs atau aplikasi komunikasi lainnya ditengarai menjadi medium ilegal bagi teroris menyiapkan aksi pengeboman di St. Petersburg pada April lalu.
Mengutip Crime Russia, popularitas Telegram sebagai aplikasi pesan instan di kalangan teroris membuat obrolan rahasia memiliki tingkat keamanan tinggi. Hanya saja, tingkat keamanan Telegram justru membuat pemerintah di sejumlah negara gerah karena sulitnya melacak dan meretas percakapan penggunanya.