Kendati demikian, ada masalah yang menghambat penggunaan biogas sebagai bahan bakar yakni ongkos teknologi dan pemasangannya.
Anggoro Bren Wiratsongko dari Yayasan Rumah Energi mengatakan daya beli masyarakat yang masih lemah jadi alasan adaptasi teknologi biogas tak begitu cepat. Teknologi dan instalasi sebuah reaktor biogas yang disediakan oleh Rumah Energi memang tak bisa dikatakan murah. Untuk satu buah reaktor berkapasitas 6m3, diperlukan biaya sekitar Rp12 juta hingga Rp15 juta.
"Kendalanya ya itu, tidak adanya dana tunai," kata Bren saat ditemui di ajang Youth Scientist Fair di Jungle Land, Bogor, Senin (14/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Guna mengakali minimnya dana segar masyarakat, Rumah Energi mulai menawarkan sistem mikro finansial berupa kredit ringan. Bren mengatakan cara ini ditempuh selain karena meringankan pembayaran, juga agar warga memanfaatkan biogas sebagai alat produksi.
Anggoro Bren Wiratsongko dari Yayasan Rumah Energi saat mengampanyekan manfaat energi biogas kepada pelajar SMA di Bogor, Senin (15/8). (Foto: Dok. Rumah Energi) |
"Minat masyarakat cukup bagus dengan melihat kita bisa mencapai 21 ribu (instalasi) dari 2009 hingga pertengahan 2017. Ini menunjukkan memang pasarnya ada," ucapnya.
Selain sebagai bahan bakar bersih dan murah, reaktor biogas dari program Biru ini juga menghasilkan ampas kotoran atau bio-slurry yang bisa dipakai untuk pupuk lahan pertanian, campuran kompos, atau dijual.
"Mereka yang pakai bio-slurry hasil panennya meningkat 30 persen, dari 6 ton jadi 9 ton untuk padi," ungkapnya penuh bangga.
Bren dan koleganya di Rumah Energi sedang menggiatkan sistem mikro finansial ke masyarakat agar reaktor biogas ini bisa dijangkau masyarakat. (evn)
