Penetrasi Pita Lebar Vietnam Lebih Unggul dari Indonesia

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Kamis, 07/09/2017 15:50 WIB
Penetrasi Pita Lebar Vietnam Lebih Unggul dari Indonesia Ilustrasi: Penetrasi pita lebar Indonesia jauh tertinggal dibandingkan Vietnam. (Foto: janeb13/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia dan Vietnam merupakan dua negara di Asia Tenggara yang sama-sama sedang berkembang, namun dengan perbedaan pada adopsi pita lebar (broadband) yang cukup timbang.

Data dari perusahaan riset untuk media dan industri telekomunikasi, Media Partners Asia pada 2016 menunjukkan penetrasi pita lebih di Vietnam sudah lebih besar yakni mencapai 28,3 persen. Sementara di Indonesia hingga kini adopsi pita lebar masih kurang dari 10 persen, tepatnya 9,1 persen.

Hal itu disampaikan oleh presiden direktur PT Link Net (First Media), Irwan Djaja yang menyebut Singapura masih menjadi negara dengan penetrasi internet tertinggi di Asia Tenggara. Pertumbuhan internet di Negeri Singa mencapai 88,5 persen, disusul China dengan 52,3 persen, dan Malaysia sebesar 34,4 persen.

Sejalan dengan itu, penetrasi adopsi TV berbayar juga masih sangat rendah di Indonesia, yakni 11,2 persen. Di sisi lain, Vietnam sudah mencapai 40,3 persen dan Singapura di posisi puncak dengan 79,2 persen.


Meski demikian, Irwan mengaku pihaknya melihat angka penetrasi pita lebar dan TV berbayar yang masih kecil sebagai sebuah potensi.

"Sekitar 53 persen dari populasi Indonesia berada di kisaran usia 30 tahun, di rentang usia tersebut tercatat memiliki gaya hidup yang selalu terhubung dengan internet. Tentu ini menjadi pasar potensial bagi bisnis telekomunikasi," imbuh Irwan disela diskusi media di Jakarta, Selasa (5/9).

Irwan menambahkan untuk mencapai target tersebut pihaknya bersiap menggelar kabel fiber optik sepanjang 2.615 km dengan 4 cores di utara dan 4 cores di selatan yang akan menjadi backbone di sepanjang Jawa.

Selain menggelar kabel di sepanjang Jawa, pihaknya jua telah menggandeng PT Ketrosden Triasmitra untuk menghubungkan 43 kota yang ditargetkan bisa dikomersilkan di awal 2018.

Link Net sendiri menargetkan bisa membangun 2,8 juta home passed hingga akhir 2021 nanti. Beberapa kota yang menjadi sasaran utama dalam satu hingga dua tahun kedepan yakni Bandung, Surabaya, Malang, Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Cirebon.


ARTIKEL TERKAIT