Belum lama ini, Grup Salim telah mengambilalih Elevania, platform marketplace, setelah PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan SK Planet melepas seluruh kepemilikan sahamnya di perusahaan e-commerce tersebut.
Ketua Asosiasi E-Commerce Indonesia Aulia E Marinto mengatakan, bisnis e-commerce memang menjamur dan semakin menjanjikan kepastian, seiring dengan kuatnya fundamental ekonomi dalam negeri. "Lihatlah pemain-pemain baru timbul, ini memberikan indikasi yang positif," tutur Aulia kepada CNNIndonesia.com, dikutip Senin (4/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain Grup Salim, terdapat beberapa grup bisnis besar lainnya yang juga memiliki lini bisnis e-commerce. Misalnya saja, perusahaan blibli.com yang berada dibawah naungan Grup Djarum.
Selanjutnya, Grup Elang Mahkota Teknologi (Grup Emtek) masuk sebagai pemilik saham minoritas di bukalapak.com melalui salah satu anak usahanya, PT Karya Media Karya (KMK Online). KMK Online menyuntikan dana berkisar ratusan miliar untuk pengembangan bisnis bukalapak.com.
Perusahaan e-commerce tersebut sebenarnya telah berdiri sejak 2011 lalu dan memiliki fokus memajukan usaha kecil dan menengah (UKM) di dalam negeri.
Lihat juga:Ramayana dan Roda Ekonomi yang Berputar |
Tumbuh 50 Persen per Tahun
Aulia menjelaskan, kondisi ekonomi yang terbilang cukup baik mampu membuat pendapatan dari bisnis e-commerce tumbuh sekitar 30 persen hingga 50 persen setiap tahunnya.
Menurutnya, masyarakat dari berbagai wilayah bisa mendapatkan harga yang sama dengan membeli produk dari situs e-commerce. Masalahnya, jelas Aulia, biasanya terdapat perbedaan harga untuk beberapa jenis produk.
Dihubungi terpisah, CEO blibli.comKusumo Martanto menuturkan, kinerja perusahaan meningkat tiga kali lipat setiap tahunnya. Salah satu alasannya, kepercayaan masyarakat terhadap bisnis e-commerce yang meningkat.
"Binis kami tumbuh karena beberapa alasan, bagi konsumen baru karena kepercayaan terhadap e-commerce dan brand kami semakin meningkat," ungkap Kusumo.
Meski begitu, ia mengakui, pengembangan bisnis e-commerce tidak bisa dikatakan mudah. Koneksi internet dan kesiapan logistik yang terbilang minim menjadi salah satu hambatan bagi perusahaan. "Tapi, kami terus mencari cara untuk bisa menggunakan segala keterbatasan tsb utk tetap tumbuh," katanya.
Beberapa layanan yang terus dikembangkan oleh perusahaan, misalnya pengiriman barang express melalui GoJek, peluncuran cicilan tanpa kartu kredit, peluncuran pembelian tiket pesawat dan hotel, termasuk peluncuran warehouse di Medan.
Lihat juga:Menerka Prospek Bisnis Ramayana ke Depan |
Pertumbuhan E-Commerce Belum Rata
Kendati secara rata-rata tumbuh, sayangnya belum semua perusahaan e-commerce mencatatkan kinerja yang positif tiap tahunnya. Sebut saja, XL Axiata yang akhirnya menyerah pada Elevania karena belum juga memberikan keuntungan terhadap bisnis perusahaan secara konsolidasian.
Seperti disampaikannya, bisnis e-commerce memang terbilang menantang dan memiliki risiko yang cukup tinggi. Elevania pun terbilang masih baru, sehingga belum memiliki pasar sendiri.
"Mungkin, sekarang tidak lanjut dulu, tapi nanti mereka kembali lagi ke Elevania. Ini karena format belum matang, pasar belum terbentuk," tutur Aulia.
"Bisnis ini terasa keuntungannya untuk perekonomian, tapi bukan untuk 2018 nanti, ini untuk ekonomi Indonesia 10 tahun ke depan. Jadi, baru kelihatannya nanti," jelas Aulia.
Hal ini akan beriringan dengan ekonomi yang semakin membaik, sehingga penetrasi penggunaan teknologi pun akan semakin masif. Artinya, pasar yang sebelumnya tak tersentuh bisa menjadi konsumen baru bagi industri e-commerce.
Dengan kata lain, bisnis e-commerce masih memiliki prospek yang cerah ke depannya. Tak heran, Grup Alibaba belum lama ini ikut menyuntikan modal segar untuk perusahaan e-commerce lokal, Tokopedia.