Street menyebut pengalaman ini sebagai hal yang menakjubkan bagi seseorang yang terobsesi dengan ilmu antariksa. Jurnalis asal Australia ini mengatakan, sejumlah staf yang telah berdedikasi puluhan tahun pun cukup berduka ketika mengetahui tugas Cassini telah berakhir.
"Terdengar hembusan napas dalam-dalam, lalu diam. Tidak ada yang melakukan kontak mata," ujar Street seperti dikutip dari The Guardian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa detik kemudian, transmisi radio S yang lebih kuat melakukan hal yang sama hingga akhirnya hilang kontak. Ia menganalogikan hilangnya sinyal Cassini ini seperti alat monitor jantung yang berubah datar.
"Saat itu Cassini hanya kabut atom yang mengambang di antara puncak awan dan berputar-putar di Saturnus," katanya.
"Saya mengagumi apa yang berhasil dilakukan Cassini dengan penemuan tujuh bulan baru, pemetaan cincin Saturnus, penemuan samudera metana di Titan, dan penemuan geyser air yang mengejutkan di Enceladus," tuturnya.
Cassini meluncur dari Bumi pada 1997. Wahana antariksa seukuran bus ini menggunakan tenaga nuklir untuk bahan bakarnya. Butuh tujuh tahun agar Cassini mencapai orbit Saturnus.
Cassini resmi 'dibebastugaskan' pada Jumat (15/9) pagi waktu AS. Sebelum purnatugas, Cassini diprogram mengirimkan foto-foto Saturnus ke markas NASA.
Alasan berhentinya Cassini mengangkasa lantaran stok bahan bakar yang menipis. Jika NASA membiarkan wahana ini kehabisan bahan bakar, maka ia berpotensi kehilangan kendali atas wahana senilai US$3,26 miliar (sekitar Rp43,2 triliun).